Mendag Ungkap Pemerintah Dorong Kemitraan UMKM dan Ritel Modern

Rabu, 12 Nov 2025, 18:20 WIB

JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menegaskan pemerintah terus berupaya memperkuat daya saing UMKM agar menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikannya pada acara Anugerah Produk Indonesia (API) 2025 di Jakarta, Selasa (11/11).

"Pertumbuhan ekonomi yang inklusif hanya dapat dicapai jika pelaku UMKM memiliki daya saing tinggi," ujar dia.

Ket. Foto: Menteri Perdagangan, Budi Santoso — Sumber: Kementerian Perdagangan

Karena itu Mendag berharap ekspor Indonesia tidak hanya berasal dari perusahaan besar, tetapi juga perusahaan kecil termasuk UMKM.

Menurut Mendag, penguatan daya saing dilakukan melalui pengamanan pasar dalam negeri serta perluasan akses ekspor. Selain itu dengan program UMKM Berani Inovasi Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang seluruhnya dirancang untuk memperkuat pasar.

Budi menambahkan Kementerian Perdagangan terus menjaga stabilitas pasar dalam negeri dan memperluas akses ekspor bagi pelaku usaha kecil. Upaya ini dilakukan melalui kemitraan antara UMKM dengan ritel modern agar produk dalam negeri semakin mudah dijangkau konsumen.

"Jika produk UMKM dapat diterima di ritel modern, itu berarti standarnya sudah setara dengan produk ekspor," ujar dia.

Mendag menegaskan saat ini hampir 80 persen produk yang dijual di ritel modern merupakan produk UMKM.

Menurut dia, inovasi dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama bagi UMKM untuk menembus pasar ekspor. Pelaku usaha kecil perlu menyiapkan sumber daya, kualitas produk, serta manajemen agar sesuai standar perdagangan internasional.

Budi mengatakan pemerintah melalui perwakilan dagang di 33 negara siap membantu mempertemukan UMKM dengan pembeli potensial. Program UMKM BISA Ekspor yang berlangsung hingga Oktober 2025 telah memfasilitasi 1.049 UMKM dengan transaksi mencapai USD130,17 juta.

"Buyer dari luar negeri percaya produk UMKM Indonesia karena didampingi pemerintah, melalui perwakilan perdagangan di 33 negara," ujar dia.

Menurut dia, pendampingan menjadi faktor kunci meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk lokal Indonesia.

Kemendag juga mengembangkan program Desa BISA Ekspor untuk mengangkat potensi ekonomi rakyat dari tingkat desa. Dari 2.300 desa yang diidentifikasi, sebanyak 734 desa dinilai siap menembus pasar ekspor.

"Produk-produk desa yang memiliki standar ekspor akan kami dampingi hingga siap menembus pasar luar negeri," ujar Mendag.

Salah satunya ekspor cokelat dari Jembrana, Bali, yang telah berhasil masuk ke pasar Prancis.

Mendag menambahkan Kemendag juga memperkuat kemitraan dengan sektor swasta dan perguruan tinggi dalam pembinaan ekspor. Mahasiswa dibekali pelatihan agar siap menjadi wirausaha muda dan eksportir masa depan.

Kemendag juga bersinergi dengan Kementerian UMKM, Kementerian Desa, serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas dan akses pasar UMKM. Melalui kerja sama tersebut, pelaku UMKM dapat dikurasi, dilatih, dan difasilitasi agar memenuhi standar ekspor.

"Kami berkolaborasi dengan kementerian lain dan pihak swasta untuk memastikan setiap pelaku UMKM siap ekspor dapat terfasilitasi," ucap dia.

Ketika UMKM memiliki pasar, baik di dalam maupun luar negeri, maka sistem ekonomi rakyat akan berjalan dengan baik.

Presiden Komisaris Bisnis Indonesia Group, Hariyadi B. Sukamdani, menilai langkah pemerintah memperkuat UMKM sejalan dengan visi Asta Cita. Menurut dia, inisiatif tersebut menekankan kemudahan akses pasar ekspor dan kemitraan strategis dengan BUMN serta sektor swasta.

"Ini diharapkan menjadi pendorong inovasi produk dan jasa nasional, juga untuk memperkuat identitas ekonomi bangsa, dan menjadi wahana untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif," ujar dia. ils/I-1

  • UMKM
  • Mendag Budi Santoso

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.