Fraksi PKB MPR Gelar Tasyakuran atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional 2025

Rabu, 12 Nov 2025, 22:27 WIB

Sejumlah tokoh lintas agama dan kepercayaan turut hadir dan memanjatkan doa dalam acara Tasyakuran atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang diselenggarakan oleh Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR RI) di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).

Acara tasyakuran ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ungkapan terima kasih Fraksi PKB MPR kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU), yakni K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan, Jawa Timur.

Ket. Foto: Sejumlah tokoh yang mewakili agama dan kepercayaan melakukan doa pada Tasyakuran atas Gelar Pahlawan Nasional oleh Fraksi PKB MPR, di Gedung Nusantara V, di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11). Tasyakuran ini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ucapan Terima Kasih dari Fraksi PKB MPR kepada Presiden Prabowo Subianto. — Sumber: Koran Jakarta/M.Fachri

Doa Bersama Lintas Agama: Simbol Kebinekaan

Dalam suasana khidmat, doa dipanjatkan oleh para tokoh agama yang mewakili Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat semangat toleransi dan pluralisme, nilai-nilai yang sejak lama diperjuangkan oleh Gus Dur.

Suasana tasyakuran terasa penuh haru ketika para peserta bersama-sama mendoakan para pahlawan bangsa, khususnya Gus Dur dan Syaikhona Kholil, agar perjuangan dan keteladanan mereka senantiasa menjadi inspirasi generasi penerus bangsa.

Gus Dur dan Syaikhona Kholil: Dua Sosok Teladan Bangsa

Gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepada K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi bentuk penghargaan atas dedikasinya yang tak kenal lelah memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia dan tokoh besar Nahdlatul Ulama, Gus Dur dikenal sebagai “Bapak Toleransi”, yang menegakkan nilai-nilai keadilan sosial tanpa memandang latar belakang agama atau etnis.

Sementara itu, Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan, Jawa Timur, dikenal sebagai ulama karismatik dan guru spiritual para pendiri NU. Ia adalah sosok yang berperan besar dalam pendidikan keagamaan, sosial, dan kebudayaan Islam tradisional di Nusantara.
Dedikasi beliau dalam membangun pondasi keilmuan dan moralitas bangsa menjadi warisan yang tak ternilai hingga kini.

Ucapan Terima Kasih kepada Presiden Prabowo

Ketua Fraksi PKB MPR RI menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan penghargaan pemerintah terhadap perjuangan para tokoh Nahdlatul Ulama. “Gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dan Syaikhona Kholil adalah bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keulamaan. Kami berterima kasih kepada Presiden Prabowo atas keputusan bersejarah ini,” ujarnya.

Acara tasyakuran ini juga menjadi momentum bagi Fraksi PKB MPR untuk meneguhkan komitmen melanjutkan perjuangan kedua tokoh tersebut dalam menjaga toleransi, persatuan, dan keutuhan bangsa.

Refleksi dan Pesan Kebangsaan

Selain doa bersama, acara diisi dengan refleksi dan testimoni tentang perjuangan Gus Dur dan Syaikhona Kholil.
Beberapa tokoh NU yang hadir menyampaikan bahwa penganugerahan gelar ini merupakan pengakuan negara atas jasa para ulama yang telah berjuang membangun nilai-nilai kebangsaan berbasis ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Gus Dur mengajarkan bahwa kemanusiaan harus menjadi fondasi politik dan agama. Sementara Syaikhona Kholil menanamkan bahwa ilmu dan akhlak adalah jalan menuju kejayaan umat,” ujar salah satu peserta tasyakuran.

Warisan Semangat Juang

Fraksi PKB MPR berharap agar semangat perjuangan Gus Dur dan Syaikhona Kholil dapat terus diwarisi oleh generasi muda.
Melalui momentum tasyakuran ini, PKB menegaskan kembali pentingnya menjaga nilai kebangsaan, memperkuat moderasi beragama, dan memperkokoh solidaritas nasional di tengah tantangan zaman.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, lantunan shalawat, dan pembacaan puisi untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menjadi penanda bahwa perjuangan dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan kedua tokoh besar itu akan terus hidup dalam sanubari rakyat Indonesia.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.