Whoosh Tak Akan Ngebut Tanpa Danantara: Fokus Operasional dan Restrukturisasi Utang Jalan Terus
Selasa, 11 Nov 2025, 18:45 WIBJAKARTA -Â Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan perannya dalam proyek Kereta Cepat JakartaâBandung (Whoosh) akan berfokus pada aspek operasional. Artinya, Danantara bertanggung jawab dalam pengelolaan layanan dan pemeliharaan sarana serta prasarana kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyebut keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto, yang menegaskan bahwa operasional Whoosh akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Danantara.
"Yang sudah disampaikan oleh Pak Presiden, untuk operasional tentu akan menjadi tanggung jawab Danantara. Karena operasionalnya kan Danantara, jadi kami bertanggung jawab secara operasional kepada Whoosh," ujarnya di Graha Mandiri, Jakarta, Selasa (11/11).
Dony menambahkan, proyek kereta cepat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Namun, ia mengakui masih ada persoalan utang yang perlu dibenahi agar operasional Whoosh berjalan lebih efisien.
"Ini juga solusi terbaik, tentunya mana yang porsinya Danantara tentu akan dilakukan oleh Danantara, terutama sekali berkaitan operasional dengan Whoosh. Dan juga ada porsinya pemerintah yang berkaitan dengan infrastruktur," jelasnya.
Menurut Dony, langkah tersebut merupakan sinyal positif yang akan meningkatkan kualitas layanan Whoosh sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. "Bagaimana Whoosh lebih optimal lagi memberikan layanan yang lebih baik dan mudah-mudahan ke depannya membawa penumpang lebih banyak lagi," tuturnya.
Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan Public Service Obligation (PSO) untuk operasional Kereta Cepat JakartaâBandung (KCJB). Skema ini akan memungkinkan sebagian biaya operasional ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Untuk ke depannya, mengenai Whoosh ini ada porsi Public Service Obligation-nya yang ditanggung pemerintah, dan juga ada sarana yang akan ditanggung bersama-sama," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (5/11/2025).
Menurutnya, penerapan PSO menjadi langkah penting karena selama ini KCJB belum menerima subsidi seperti moda transportasi publik lainnya. Skema PSO diharapkan dapat menekan harga tiket agar lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
"Itu kan ada undang-undangnya juga memang untuk prasarana dan juga untuk mass transportation itu tanggung jawab pemerintah. Tapi untuk sarananya dan operasionalnya bisa di BUMN atau badan usaha lainnya," ujar Rosan.
Di sisi lain, Dony menjelaskan bahwa Indonesia dan China telah sepakat untuk merestrukturisasi utang proyek KCJB hingga 60 tahun. Proses restrukturisasi ini tengah difinalisasi melalui negosiasi antara tim gabungan Indonesia dan pihak China.
"Nanti kan ada tim, nanti dengan Pak Luhut. Kalau kami (Danantara) kan lebih kepada korporasi ya. Kita terus bernegosiasi," kata Dony di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/10/2025).
Ia menegaskan, negosiasi dengan pihak China akan mencakup pembahasan soal jangka waktu pinjaman, suku bunga, hingga mata uang yang digunakan dalam pembayaran. Targetnya, restrukturisasi dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2025.
"Jadi nggak rumit dan pasti akan kita selesaikan," tegasnya.
Dony menjelaskan bahwa secara korporasi, kondisi keuangan PT KCIC masih tergolong sehat dengan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) yang positif. Artinya, secara operasional, bisnis Whoosh telah berjalan baik dan hanya memerlukan penyesuaian di sisi pembiayaan.
"Karena secara korporasi kan perusahaannya EBITDA positif. Tinggal masalah cicilannya mau gimana, kan itu aja," katanya.
Ia menambahkan, tim negosiasi terdiri dari perwakilan pemerintah, PT KCIC, dan Danantara yang akan menyediakan data serta analisis keuangan untuk mendukung proses pembahasan restrukturisasi.
"Kami memberikan data, data-data mengenai structure yang paling bagus seperti apa yang membuat perusahaan ini menjadi sustain. Nah nanti negosiasinya tentu pemerintah juga terlibat dalam negosiasi ini," ujar Dony.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terkait isu utang proyek Whoosh yang menelan biaya sekitar US$ 7,27 miliar atau setara Rp117,3 triliun. Ia memastikan negara memiliki kemampuan membayar cicilan utang tersebut.
"Duit yang tadinya dikorupsi, saya hemat. Gak saya kasih kesempatan. Jadi saudara-saudara saya minta bantu saya semua, jangan kasih kesempatan koruptor-koruptor itu merajalela," ujar Prabowo.
Menurutnya, proyek Whoosh telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk mengurangi kemacetan, polusi, dan menjadi sarana transfer teknologi dari China ke Indonesia.
"Pokoknya nggak masalah, karena itu kita harus bayar mungkin Rp 1,2 triliun per tahun, tapi manfaatnya mengurangi macet, polusi, perjalanan semua dihitung," kata Prabowo.
Dengan fokus Danantara pada operasional, penerapan PSO, dan restrukturisasi utang yang ditargetkan rampung tahun ini, pemerintah optimistis Whoosh akan semakin efisien, berkelanjutan, dan memberi dampak ekonomi positif bagi Indonesia.
- KCJB
- Whoosh
- Kereta Cepat Whoosh
- KCIC
- Danantara
- Utang Kereta Cepat Whoosh
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Serbuan Wisatawan di Alahan Panjang, Ratusan Polisi Solok Siaga Penuh di Danau Kembar
-
Pupuk Jadi Prioritas Gas, Sinyal Keras untuk Sektor Industri Lain
-
Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Serang Bertahan dengan Cara Pahit
-
Sawah Kering di Boyolali Bakal Dialiri Air Stabil Sepanjang Tahun, Ini Rahasianya
-
Reformasi Investasi Danantara Dinilai Bisa Tekan Gelombang PHK
-
Harga BBM Naik Akibat Perang Iran, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum
-
Panen Raya "Urban Farming" di Jaktim, Melon Inthanon Jadi Daya Tarik Utama
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.