Pertamina Tegaskan Masih Bermitra dengan Rosneft untuk Kilang Tuban
Senin, 10 Nov 2025, 17:07 WIBJAKARTA - Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa sejauh ini, Pertamina masih bermitra dengan perusahaan energi asal Russia, Rosneft, untuk mengembangkan Kilang Tuban, meskipun terdapat sanksi dari Amerika Serikat.
âSejauh ini masih dengan partner yang lama (Rosneft), ya,â ucap Simon ketika ditemui setelah melantik anggota komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11).
Simon menyampaikan bahwa saat ini Pertamina sedang di tahap Final Investment Decision (FID) Kilang Tuban bersama Rosneft. Hasil dari FID tersebut nantinya akan menentukan apakah proyek Kilang Tuban memungkinkan untuk dilanjutkan atau terdapat rencana lainnya.
Ihwal kepastian kapan hasil FID akan diumumkan, Simon menyampaikan akan memberi perkembangan terbarunya pada Desember.
âUntuk FID, mungkin kami melihat awal Desember, ya. Kami akan update lagi nanti,â kata Simon.
Pernyataan Simon selaras dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berpesan kepada masyarakat agar tidak mengkhawatirkan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Russia, utamanya terkait dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Russia yang berinvestasi di Indonesia.
Sanksi tersebut diumumkan pada Rabu (22/10) oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia mengumumkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, menyerukan "gencatan senjata segera," seraya menambahkan bahwa Gedung Putih siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan.
Pada Rabu yang sama, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa dia telah membatalkan pertemuannya dengan Presiden Russia Vladimir Putin di Hongaria, dengan alasan "rasanya tidak tepat bagi saya."
AS dan sekutunya telah memberlakukan beberapa putaran sanksi keuangan dan perdagangan terhadap Russia sejak dimulainya konflik Russia-Ukraina pada Februari 2022, menargetkan bank-bank, industri pertahanan, dan ekspor energi Russia.
Kirill Dmitriev, utusan khusus Presiden Russia Vladimir Putin untuk investasi dan kerja sama ekonomi, akan bertemu dengan Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff pada Sabtu di Miami, Florida, media AS melaporkan.
Pertemuan ini terjadi beberapa hari setelah Trump membatalkan rencananya untuk bertemu Putin di Budapest, Hongaria, dan Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, dua produsen minyak terbesar Russia, dalam upaya untuk mendesak kesepakatan gencatan senjata di Ukraina.
Dmitriev mengatakan di platform X bahwa kunjungannya "telah direncanakan sejak lama berdasarkan undangan dari pihak AS."
Utusan Russia menyatakan sanksi tersebut, yang pertama selama masa jabatan kedua Trump, tidak akan menjadi masalah besar bagi Russia, tetapi menyebabkan kenaikan harga bensin di AS. Dia juga menegaskan kembali sikap Putin bahwa Russia tidak akan pernah menyerah pada tekanan. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Bupati Tabanan Tegaskan Jatiluwih sebagai Destinasi Wisata Unggulan Berbasis Alam dan Budaya
-
Banyak Gunakan Lahan Masyarakat, Legislator Dorong Pelibatan Warga Lokal dalam Proyek GRR&P Tuban
-
Franz Junghuhn, Naturalis Romantis yang Perkenalkan Indonesia
-
Di Tengah Tekanan Global, KSSK Optimistis: Ekonomi 2026 Tembus 5,4 Persen
-
Hasil Lengkap Drawing Piala Dunia 2026: Brasil dan Prancis Masuk Grup Berat
-
Festival Pacu Jalur Menarik Minat Penyanyi Rap Amerika untuk Tampil di Riau
-
Inovasi block mode di Kilang Pertamina Internasional Cilacap
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.