RI Candu Impor Tepung Telur, Hilirisasi Peternakan Belum Optimal
📅 Minggu, 09 Nov 2025, 15:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA- Indonesia disebutkan masih sangat bergantung pada impor tepung telur, terutama dari India. Fenomena ini menunjukan hilirisasi sektor peternakan belum optimal sebab RI surplus produksi telur.
Direktur Utama, PT. Sinergi Pangan Mandiri Unit Usaha dari Koperasi di Blitar/UMKM pengelola telur, Indarto mengemukakan, perusahaanya adalah perintis di usaha tepung telur. Namun, diakuinya langkah tersebut bukan hal mudah, namun dengan bantuan dari Kementan, usahanya kini diterima pasar dengan baik.
Adapun sumber utama tepung telur terbanyak dari India. Data tahun 2024, Indonesia impor tepung telur sebanyak 2500 ton pertahun. Dan perusahannya bisa mengambil sedikit dari kebutuhan nasional sudah sangat luar biasa.
"Kini pabrik kami sudah diterima pabrik mayones, makanan frozen food, dan pabrik mie,"ujarnya saat menjadi panelis Tani on Stage di Pameran Agrinex Expo yang berlangsung di JIExpo, Kemayoran, Jumat (7/11).
Indarto berharap lebih banyak lagi perusahan-perusahan yang mau berkecimpung memproduksi tepung telur sehingga Indonesia tidak lagi tergantung dengan impor dari luar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung hilirisasi produk peternakan menuju daya saing yang lebih tinggi, kesejahteraan peternak, dan penguatan ketahanan pangan nasional. Tujuannya agar produk peternakan, seperti daging, telur, dan susu, memiliki nilai tambah melalui pengolahan dan dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Pernyataan itu dikemukakan Ketua Kelompok Fungsi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Peternakan, Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan, Maria Nunik Sumartini atau yang biasa disapa Nunik.
Olah Hasil Pertanian
Sebaiknya Anda baca juga:
Nunik, mengungkapkan kebijakan Kementan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian, termasuk peternakan, secara konsisten menekankan perbaikan dan penerapan mutu dalam penanganan pascapanen dan pengolahan produk pertanian. Strategi ini merupakan bagian integral dari upaya hilirisasi dan diversifikasi produk pertanian.
"Kebijakan hilirisasi Kementan bertujuan untuk mengolah hasil pertanian mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi, guna meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional," tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Kementan mendorong agar produk pertanian tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah yang siap dipasarkan, baik di pasar domestik maupun ekspor. Sehingga meningkatkan pendapatn petani dan peternak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!