Pangan Biru, Aset Maritim Baru RI untuk Menopang Ketahanan Pangan Global

Jumat, 07 Nov 2025, 21:30 WIB

JAKARTA – Potensi pangan biru (blue food) Indonesia sangat besar, mengingat luasnya wilayah laut dan keanekaragaman hayati perairan yang dimiliki.

Sumber daya ini dapat menjadi pilar ketahanan pangan dan gizi nasional, sekaligus motor pertumbuhan ekonomi berbasis maritim.

Ket. Foto: Pekerja memindahkan ikan hasil tangkapan ke dalam kotak es di tempat pelelangan ikan (TPI) Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. — Sumber: ANTARA/ Angga Budhiyanto

Dengan pengelolaan berkelanjutan dan inovasi teknologi budidaya, blue food mampu meningkatkan nilai tambah sektor perikanan, memperluas ekspor, serta mendukung transisi menuju sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Namun, optimalisasi potensi ini membutuhkan kebijakan integratif antara konservasi laut, investasi, dan pemberdayaan nelayan lokal.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan besarnya potensi pangan biru (blue food) Indonesia untuk mendukung program ketahanan pangan global, terutama melalui penguatan sektor perikanan budidaya yang berkelanjutan.

Saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (7/11), Trenggono menyebut pangan biru yang bersumber dari hasil perikanan tangkap dan budidaya di Indonesia jumlahnya tak kurang dari 24 juta ton setiap tahun, termasuk rumput laut. Pihaknya menargetkan peningkatan volume produksi, khususnya dari perikanan budidaya demi menjaga keberlanjutan populasi perikanan di alam.

Ia menambahkan produksi perikanan budidaya saat ini berada di angka rata-rata 5,6 juta ton per tahun. Padahal, Indonesia memiliki potensi lahan budidaya di darat, laut, dan pesisir seluas hampir 18 juta hektare, tetapi baru dimanfaatkan sekitar 1,2 juta hektare atau 6,8 persen.

"Budidaya itu masa depan, dan kami telah mengembangkan modeling-modeling budidaya modern sejumlah komoditas, salah satunya nila salin di Karawang," kata Trenggono dikutip dari keterangan kementerian.

"Keberhasilan di Karawang kami bawa ke skala yang lebih besar yaitu dalam bentuk program revitalisasi tambak untuk budidaya nila salin, yang tahap awal pembangunan luasnya mencapai 20 ribu hektare di Jawa Barat,” katanya menambahkan.

Konsep revitalisasi tambak di Pantura Jawa, lanjut dia, tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mengintegrasikan pengembangan ekosistem mangrove sebagai penyangga lingkungan alami. Tambak-tambak tersebut juga dilengkapi dengan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) untuk menjaga kualitas lingkungan.

“Pengelolaan limbah harus dilakukan dengan benar, tidak hanya di tambak, tapi juga di kampung nelayan. Untuk itu kami siapkan program Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Trenggono.

Program revitalisasi tambak di Jawa Barat diproyeksikan menghasilkan sekitar 1,56 juta ton nila salin per tahun. Peningkatan produksi ini didukung oleh penerapan teknologi budidaya modern yang mampu meningkatkan produktivitas dari 0,6 ton menjadi 130 ton per hektare per siklus.

Mengenai pasar, Trenggono optimistis karena kebutuhan protein dunia terus meningkat. Timur Tengah disebut sebagai pasar potensial karena tingginya konsumsi ikan nila dan banyaknya diaspora Indonesia di kawasan tersebut.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memproyeksikan populasi dunia akan tumbuh lebih dari 30 persen hingga 2050, dengan kebutuhan protein meningkat hingga 70 persen. Nilai pasar pangan biru global pada 2030 diperkirakan mencapai 419,09 miliar dolar AS.

  • KKP
  • Pangan Biru

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.