Gotong Royong Semua Pihak  Ringankan Beban Atasi Bencana di Luwu

Kamis, 06 Nov 2025, 02:30 WIB

LUWU – Bencana alam datang setiap saat. Ini tidak bisa hanya diatasi pemda, harus ada gotong royong. Wakil Bupati Luwu Muh Dhevy Bijak Pawindu mengatakan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci untuk meminimalkan dampak bencana yang sering terjadi saat cuaca ekstrem.

"Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana dan memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan terbaik,” ujar Wabup Dhevy pada Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Luwu Tahun 2025, bertempat di halaman Mapolres Luwu, Rabu.

Ket. Foto: antisipasi bencana — Sumber: ist

Ia menjelaskan seluruh sektor harus siap siaga menghadapi segala kemungkinan, termasuk ancaman cuaca ekstrem, seperti angin kencang hingga banjir bandang. Wagub Luwu mengapresiasi pelaksanaan apel ini sebagai wujud nyata kesiapan pemerintah daerah bersama TNI-Polri dan seluruh unsur terkait dalam melindungi masyarakat dari ancaman bencana alam.

Sementara itu, Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu menyampaikan apel kesiapsiagaan ini merupakan langkah nyata dalam memastikan seluruh personel dan pemangku kepentingan yang terlibat dapat bersinergi secara sigap, cepat, dan tepat dalam menghadapi berbagai potensi bencana ke depan demi menjamin keselamatan masyarakat.

AKBP Adnan menyampaikan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Berdasarkan data nasional hingga 19 Oktober 2025, tercatat telah terjadi 2.606 kejadian bencana di berbagai wilayah, dengan dampak yang cukup signifikan terhadap masyarakat.

Kapolres menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi fenomena La Nina yang diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2026 dan berpotensi meningkatkan curah hujan di atas normal, khususnya di wilayah selatan Indonesia, termasuk Sulawesi. Kapolres dalam momentum ini juga memberikan beberapa penekanan penting kepada seluruh peserta apel, di antaranya melakukan deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan bencana secara berkelanjutan.

Selain itu, menyampaikan informasi dan imbauan kepada masyarakat terkait potensi bencana. Memastikan kesiapan personel, sarana, dan logistik pendukung. Melaksanakan simulasi penanggulangan bencana secara rutin. Menjalankan tugas kemanusiaan dengan empati, humanis dan profesional. Meningkatkan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan elemen masyarakat lainnya.

Simulasi Tsunami

Sementara itu, Ratusan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 11 Belakang Tangsi, Padang, Sumatra Barat (Sumbar) antusias melakukan mitigasi serta simulasi penyelamatan tsunami pada Rabu (11/5) pagi. Kegiatan yang diikuti ratusan siswa tersebut adalah bagian dari kegiatan berskala besar yang digelar secara serentak oleh berbagai lembaga serta instansi di Kota Padang.

"Setelah sirine peringatan gempa pertama terdengar, semua siswa langsung berkumpul di lapangan sekolah sebagai tempat evakuasi sementara," kata Kepala SDN 11 Padang Sulistiani di Padang.  Ia menceritakan setelah sirine kedua terdengar dan muncul peringatan dini tsunami, maka para siswa langsung diarahkan ke bangunan tinggi terdekat.

Bangunan tinggi yang menjadi tujuan penyelamatan adalah Fase VII yang berlokasi di kawasan Pasar Raya Padang. "Para siswa langsung berlari menuju ke bangunan Fase VII Pasar Raya Padang, jarak tempuh tadi sekitar dua puluh menit," jelasnya. Sulistiani berharap simulasi yang telah diikuti oleh para siswa itu menjadi bagi mereka ketika menghadapi situasi bencana.

"Kita memang tidak menginginkan bencana terjadi, tapi ketika bencana itu terjadi diharapkan siswa sudah siap dengan edukasi serta pengetahuannya," jelasnya. Kegiatan mitigasi serta simulasi yang dilakukan oleh siswa itu berkolaborasi dengan personel Polresta Padang serta relawan bencana.

Kepolisian tampak mengatur rute serta jalur evakuasi, dan menuntun mereka menuju ke bangunan Fase VII. Ia mengatakan kegiatan edukasi serta sosialisasi terus dilakukan oleh SDN 11 Padang secara rutin satu kali dalam tiga bulan. Salah satu siswa yang mengikuti kegiatan yaitu Alzam dari kelas 6 B, mengaku mendapatkan pelajaran. "Saat bencana terjadi yang pertama dilakukan adalah tidak boleh cemas dan tidak boleh panik, setelah itu lari untuk mencari tempat evakuasi," jelasnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.