Yogyakarta Perkuat Kesiapsiagaan Banjir Lewat Simulasi Sistem Peringatan Dini
📅 Rabu, 05 Nov 2025, 17:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Pemkot Yogyakarta
YOGYAKARTA - Menjelang musim hujan, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan simulasi penggunaan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) banjir. Kegiatan ini melibatkan Kelompok Tangguh Bencana (KTB) di lima lokasi rawan banjir, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code, Sungai Gajah Wong, Kali Buntung, dan Kali Belik.
Simulasi tersebut menjadi upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memastikan sistem peringatan dini yang sudah terpasang dapat berfungsi dengan baik. Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi hingga awal tahun mendatang.
“Simulasi ini untuk memastikan seluruh sistem peringatan dini berfungsi dengan baik. Karena menurut prakiraan BMKG, mulai Oktober hingga Januari nanti akan terjadi peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berpotensi menimbulkan bencana,” ujarnya di kantornya, Selasa (4/11).
Menurut Nur Hidayat, saat ini BPBD Kota Yogyakarta telah memiliki 26 unit perangkat EWS yang tersebar di sejumlah titik sungai. Semua peralatan tersebut telah dipastikan beroperasi normal. “Karena cuaca ekstrem dapat memengaruhi jaringan listrik dan komunikasi, maka kami juga menyiapkan sistem cadangan seperti radio HT di setiap wilayah agar komunikasi tetap berjalan jika sistem utama terganggu,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah DIY, terdapat peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Masyarakat pun diimbau agar tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, kilat, serta risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung.
BPBD juga memperkuat peran KTB di lapangan. Setiap anggota dijadwalkan melakukan piket rutin dua kali sehari, pukul 09.00 dan 21.00, untuk memantau kondisi lingkungan dan melaporkan perkembangan potensi bencana. “Kami sudah mengirimkan surat edaran kepada seluruh warga terkait masuknya musim cuaca ekstrem. Sosialisasi juga terus kami lakukan agar masyarakat semakin siap dan tanggap terhadap potensi bencana,” ungkapnya.
Nur Hidayat menambahkan, pengalaman cuaca ekstrem pada 21 Oktober 2025 lalu menjadi pengingat penting bagi semua pihak. “Saat itu tercatat hampir 50 kejadian, di antaranya 22 pohon tumbang, 10 atap rumah roboh, kerusakan jaringan TV, serta beberapa baliho ambruk. Ini menjadi pelajaran bersama agar masyarakat selalu waspada dan siap menghadapi perubahan cuaca ekstrem,” ujarnya.
Salah satu lokasi yang turut merasakan manfaat EWS adalah wilayah sekitar Kali Belik. Menurut anggota KTB Kali Belik, Jarwo Kuswanto, sistem peringatan dini yang terpasang sejak dua tahun lalu berfungsi efektif memberi tanda ketika debit air meningkat, meski banjir besar kini jarang terjadi.
“EWS ini sudah dipasang sekitar dua tahun. Bunyi peringatannya sering terdengar. Namun sampai saat ini belum pernah terjadi banjir besar di sini,” katanya.
Jarwo menambahkan, sebelum adanya pembangunan talud dan embung, daerah sekitar Kali Belik kerap tergenang setiap kali hujan deras. “Dulu kalau hujan satu jam saja, air bisa naik sampai di atas mata kaki. Tapi sejak ada talut dan embung, sekarang hampir tidak pernah banjir lagi. Debit air rata-rata sekitar 200 meter, tapi masih aman dan tidak sampai meluap ke permukiman,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah terus menindaklanjuti usulan warga untuk membersihkan Kali Belik secara berkala dan memasang jaring sampah di beberapa titik guna mencegah tumpukan sampah kiriman dari hulu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!