Wayang Kulit Tatah Sungging Kukuhkan Bantul sebagai Sentra Kriya Berkelas Dunia
Rabu, 05 Nov 2025, 17:20 WIBBANTUL - Kabupaten Bantul kembali menorehkan prestasi di sektor ekonomi kreatif. Untuk ketiga kalinya, Bantul meraih Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Kali ini, pengakuan tersebut diberikan untuk produk khas wayang kulit tatah sungging, menyusul dua produk sebelumnya yang telah lebih dulu diakui, yaitu batik nitik dan gerabah Kasongan.
Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Bantul sebagai daerah dengan potensi kriya unggulan, sejalan dengan statusnya sebagai kabupaten kreatif di bidang kriya yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
âIni ketiga kalinya Bantul mendapat Sertifikat Indikasi Geografis. Artinya memang potensi kriya di Bantul itu luar biasa,â ujar Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, usai menerima sertifikat di ruang kerjanya, Selasa (4/10/2025).
Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham DIY, Agung Rektono Seto, menjelaskan bahwa proses penetapan wayang kulit tatah sungging sebagai produk berindikasi geografis memerlukan waktu panjang. âProsesnya hampir satu tahun. Kelayakannya dilihat dari banyak sektor. Apakah benar wayang kulit tatah sungging asli dari Bantul dan sebagainya. Karena memang Sertifikat Indikasi Geografis itu diberikan untuk melindungi produk yang memiliki kualitas, reputasi, atau karakteristik khas yang berasal dari suatu lokasi geografis tertentu,â jelasnya.
Wayang kulit tatah sungging sendiri telah lama dikenal berasal dari Dusun Pucung, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri. Sentra kerajinan ini berakar dari sosok Mbah Glemboh, seorang abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII mendapat izin untuk membuat wayang. Kegigihan Mbah Glemboh dalam menggeluti seni tatah sungging kemudian menginspirasi warga sekitar untuk ikut belajar, hingga tradisi itu berkembang menjadi industri rakyat yang bertahan lintas generasi.
Pada masa jayanya, sekitar sebelum krisis moneter 1998, jumlah pengrajin wayang kulit tatah sungging di Pucung mencapai sekitar 1.300 orang. Namun kini jumlahnya menurun drastis menjadi sekitar 300 pengrajin aktif. âSebelum tahun 1998, ada sekitar 1.300 pengrajin. Sekarang tinggal 300-an saja,â tutur salah satu pengrajin, Suyono.
Meski demikian, semangat pelestarian dan inovasi tetap terjaga. Suyono menambahkan bahwa sekitar 60 persen pasar wayang kulit tatah sungging kini berasal dari luar negeri seperti Jepang, Prancis, dan Australia. Sementara pasar domestik tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Batam, Medan, Bali, Bandung, dan Yogyakarta.
Untuk menyesuaikan dengan selera pasar modern, para perajin juga terus berinovasi, baik dalam bentuk desain, teknik tatah sungging, maupun pemanfaatan bahan. Dengan dukungan pemerintah daerah serta pengakuan melalui sertifikat indikasi geografis, Bantul kian kokoh sebagai pusat kriya tradisional yang mampu menembus pasar global tanpa meninggalkan akar budaya lokalnya.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Macet Parah, Jalan ke Pelabuhan Gilimanuk Capai 40 KM
-
Pengelola: Kunjungan ke Kota Tua Jakarta Tembus Puluhan Ribu selama Libur Lebaran
-
Memori Bisa Jadi Penentu Mahalnya Harga Handphone
-
Otmilti II Jakarta Musnahkan Barang Bukti Perkara, Tegaskan Hukum Militer Transparan
-
Bantul Perkuat Koperasi Merah Putih Lewat Kebijakan dan Sistem Digital
-
Serat Palilah Diserahkan, Warga Pedak Baru Bantul Dapat Kepastian Tinggal
-
Oman Kosongkan Pelabuhan Ekspor Minyak Utama dari Kapal Tanker
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.