Hegseth: Aliansi AS-Korsel Fokus pada Korut

Rabu, 05 Nov 2025, 02:50 WIB

SEOUL - Amerika Serikat (AS) akan mempertimbangkan fleksibilitas bagi pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan (Korsel) untuk beroperasi melawan ancaman regional, tetapi inti aliansi dengan Seoul akan tetap berfokus pada pencegahan Korea Utara (Korut).

Hal itu disampaikan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, pada Selasa (4/11), saat berbicara bersama mitranya dari Korsel, Menhan Ahn Gyu-back, selama kunjungan ke Zona Demiliterisasi (DMZ) yang berbatasan dengan Korut sehari sebelumnya.

Ket. Foto: Menhan AS, Pete Hegseth (kiri), berjabat tangan dengan Menhan Korsel, Ahn Gyu-back, saat kedua bertemu dalam sebuah pertemuan di Kementerian Pertahanan Korsel di Seoul pada Selasa (4/11). Dalam kunjungan ke Korsel, Menhan Hegseth menegaskan bahwa inti aliansi AS-Korsel akan tetap berfokus pada pencegahan Korut. — Sumber: AFP/South Korean Defence Ministry

Ketika ditanya apakah 28.500 tentara AS yang ditempatkan di Korsel mungkin digunakan dalam konflik apa pun di luar semenanjung, termasuk dengan Tiongkok, Hegseth mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa melindungi terhadap Korut yang memiliki senjata nuklir adalah tujuan aliansi tersebut.

"Namun, tidak diragukan lagi bahwa fleksibilitas untuk kontingensi regional adalah sesuatu yang akan kami pertimbangkan," ujar dia.

Pejabat AS sebelumnya telah mengisyaratkan rencana untuk membuat pasukan AS lebih fleksibel untuk berpotensi beroperasi di luar Semenanjung Korea sebagai respons terhadap berbagai ancaman yang lebih luas, seperti mempertahankan Taiwan dan memantau jangkauan militer Tiongkok yang semakin meningkat.

Korsel sendiri menolak gagasan pengalihan peran pasukan AS, tetapi telah berupaya meningkatkan kemampuan pertahanannya dalam 20 tahun terakhir, dengan tujuan mampu mengambil alih komando gabungan pasukan AS-Korsel di masa perang.

Hegseth mengatakan kedua pihak masih menyusun komunike bersama yang diharapkan membahas pembicaraan tentang biaya pertahanan dan isu lainnya, seraya menambahkan mereka telah membahas langkah Korsel yang melakukan investasi militer yang lebih besar.

Kedua negara juga sepakat agar Korsel memelihara dan memperbaiki kapal-kapal AS, yang memungkinkan mereka untuk tetap berada di daerah tersebut dan siap jika diperlukan, kata dia.

Keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk mendukung rencana Korsel membangun kapal selam bertenaga nuklir didorong oleh keinginannya untuk memiliki sekutu yang kuat, kata Hegseth.

"Dia ingin sekutu kita memiliki kemampuan terbaik," kata Menhan AS itu.  "Dan karena Korsel menjadi sekutu teladan, ia terbuka terhadap peluang seperti itu, yang memastikan mereka memiliki kemampuan terbaik dalam pertahanan mereka sendiri dan bersama kita sebagai sekutu," imbuh Hegseth.

Pejabat Korsel mengatakan mereka dapat meluncurkan kapal selam bertenaga nuklir pada pertengahan tahun 2030-an jika diberikan bahan bakar dari AS.

Ketika ditanya tentang kekhawatiran bahwa Korsel dapat mengembangkan bom nuklirnya sendiri, Menhan Ahn menegaskan bahwa negaranya merupakan penanda tangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. “Oleh karena itu, tidak akan ada pengembangan senjata nuklir di Korsel,” ujar dia.

Tembakkan Artileri

Sementara itu Korut dilaporkan telah menembakkan beberapa roket artileri satu jam sebelum Menhan Hegseth mengunjungi DMZ, kata militer Korsel, Selasa.

“Pyongyang juga menembakkan senjata serupa beberapa menit sebelum Presiden Korsel, Lee Jae Myung, mengadakan pembicaraan dengan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, pekan lalu,” kata Kepala Staf Gabungan Korsel (JCS).

JCS mengatakan mereka baru-baru ini mendeteksi sekitar 10 roket artileri yang ditembakkan ke bagian utara Laut Kuning. Senjata tersebut ditembakkan sekitar pukul 3 sore pada hari Sabtu (1/11) dan sekitar pukul 4 sore pada Senin (3/11).

"Rincian proyektil saat ini sedang dianalisis secara cermat oleh otoritas intelijen Korsel dan AS," pungkas JCS. AFP/ST/I-1

  • hegseth

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.