Darurat Sampah Banjarmasin, Bank Sampah Bisa Kelola Puluhan Ton per Bulan

Rabu, 05 Nov 2025, 20:48 WIB

BANJARMASIN - Bank Sampah Induk Banjarmasin mampu mengelola rata-rata 25 ton sampah terpilah setiap bulan, menjadi solusi darurat setelah penutupan TPAS Basirih.

Dengan lebih dari 300 unit bank sampah di lingkungan masyarakat, penanganan sampah organik mulai dari rumah tangga diharapkan bisa menekan masalah sampah kota secara signifikan, asalkan didukung penuh pemerintah dan partisipasi warga.

Ket. Foto: Direktur Bank Sampah Induk Banjarmasin Fathurrahman (tengah) saat menerima kunjungan pimpinan dinas lingkungan hidup dan aktivis lingkungan hidup di Bank Sampah Induk Banjarmasin, beberapa waktu lalu. — Sumber: ANTARA/HO-Bank Sampah Induk Banjarmasin

"Untuk bank sampah induk saja rata-rata 25 ton sampah terpilah dapat dikelola," ujar Direktur Bank Sampah Induk Banjarmasin Kalimantan Selatan Fathurrahman di Banjarmasin, Rabu (5/11).

Menurut dia, jika dimaksimalkan unit bank sampah di lingkungan masyarakat yang jumlahnya lebih 300 unit, tentunya sangat signifikan dapat menangani darurat sampah di kota ini karena ditutupnya Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI sejak Februari 2025.

"Jika dimaksimalkan kinerja unit bank sampah itu bisa 2-3 ton sampah terpilah dapat dikelola per bulannya," ujarnya.

Bisa dihitung dengan jumlah 300 bank sampah yang sudah berdiri di kota ini tersebar di 32 kelurahan pada 5 kecamatan, cukup besar untuk penanganan masalah sampah di kota ini.

Fathur menyatakan, sejumlah unit bank sampah perlu pembinaan agar bisa maksimal beroperasi, karena jika tidak berpotensi mati suri.

"Kami sebagai bank sampah induk melakukan upaya pendampingan-pendampingan agar unit bank sampah yang kondisinya sulit bisa hidup lagi," ujarnya.

Dia pun juga meminta pemerintah kota melalui Dinas Lingkungan Hidup juga berperan aktif untuk melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap unit bank sampah yang sudah didirikan di lingkungan masyarakat.

"Bisa dengan insentif dan lainnya yang bisa memberikan semangat untuk unit bank sampah bisa beroperasi kembali," ujarnya.

Karena bagaimanapun, ucap Fathur, penanganan sampah yang efektif harus dimulai dari sumbernya, yakni dari sampah di rumah tangga.

Jika dapat dikelola dengan baik, ujar dia, utamanya sampah organik yang jumlahnya sekitar 55 persen dari produksi sampah di kota ini yang mencapai 500 ton lebih perharinya, di mulai dari tingkatkan lingkungan RT dan kelurahan tidak menjadi masalah rumit seperti saat ini.

"Kalau sudah diselesaikan dari sumbernya itu, tidak mungkin lagi TPS sampah itu menimbulkan bau," ujarnya.

Fathur menyatakan, penanganan darurat sampah di kota ini harus dilakukan secara gotong royong, karena tanggung jawab bersama, tidak hanya jadi beban pemerintah, karenanya salah satu solusinya aktifkan bank sampah.

  • banjarmasin
  • bank sampah
  • darurat sampah

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.