Perdagangan Luar Negeri Surplus Selama 65 Bulan Tiada Putus
Senin, 03 Nov 2025, 13:55 WIBJAKARTA âSejak bulan Mei 202 hingga kini atau 65 bulanan, neraca perdagangan Indonesia terus surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai keuntungan kumulatif Januari-September 2025 sebesar 33,48 miliar dollar AS atau sekitar 558 triliun.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Jakarta, Senin menyatakan keuntungan yang diperoleh Indonesia hingga triwulan III tahun ini meningkat 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp188 triliun di periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year/YoY).
"Dengan capaian ini, maka neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 65 bulan berturut-turut," kata dia.
Ia menjelaskan keuntungan kumulatif yang diperoleh Indonesia sejak awal tahun hingga September 2025 ini berasal dari total ekspor sebesar 209,8 miliar dolar AS atau Rp3,49 kuadriliun dan impor di periode yang sama sebanyak 176,32 miliar dolar AS atau Rp2,93 kuadriliun. Untuk nilai ekspor tersebut meningkat 8,14 persen secara tahunan, dengan penyumbang utama oleh nilai ekspor industri pengolahan sebanyak 167,85 miliar dolar AS atau Rp2,8 kuadriliun.
Negara tujuan ekspor nonmigas produk Indonesia pada periode ini didominasi oleh China, Amerika Serikat, India, ASEAN, dan Uni Eropa. "Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 12,58 persen," ucap dia. Sementara untuk impor periode Januari-September 2025 naik 2,62 persen secara tahunan, dengan andil utama peningkatan oleh impor barang modal sebesar 3,36 persen.
Menurut penggunaannya, impor yang dilakukan oleh Indonesia pada periode tersebut digunakan untuk bahan baku atau penolong sebesar 124,4 miliar dolar AS atau Rp2 kuadriliun, barang modal 35,9 miliar dolar AS atau Rp598 triliun, dan barang konsumsi 16,02 miliar dolar AS atau Rp267 triliun.
Khusus untuk neraca dagang September 2025, BPS mencatat Indonesia mencatatkan keuntungan 4,34 miliar dolar AS atau Rp72 triliun, dengan komposisi ekspor 24,68 miliar dolar AS atau Rp411 triliun dan impor 20,34 miliar dolar AS atau Rp339 triliun.
Ditopang Domestik
Sebelumnya, di tempat terpisah, Menteri KeuanganPurbaya Yudhi Sadewa. Dia mengungkapkan kekuatan permintaan (demand) domestik menjadi kunci utama perekonomian nasional.
"Kekuatan domestik demand kita sekitar 90 persen, sedangkan global hanya pengaruhnya sekitar 10 persen. Kalau ekspor mungkin 20 persen. Let's say 20 persen, jadi kita masih 80 persen menguasai arah ekonomi kita," ujar Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komite IV DPD RI di Jakarta, Senin.
Menurut dia, kalau melihat perekonomian global, maka sering mendengar ekonomi global hancur dari beberapa tahun yang lalu.
Semua pihak merasa ketakutan dibayang-bayangi kehancuran ekonomi global, namun yang namanya ketidakpastian global selalu ada. Setiap tahun ketidakpastian dunia selalu datang dari sisi mana pun. Selama 25 tahun dirinya sebagai ekonom selalu menghadapi hal itu, akhirnya Purbaya menyimpulkan bahwa ketidakpastian global ini selalu terjadi.
Jadi yang paling pintar, yang paling bagus bagi kita adalah menentukan kebijakan dalam negeri yang baik. Sehingga walaupun ekonomi global gonjang ganjing, kita tidak peduli," kata Purbaya. Kebijakan ekonomi Indonesia ada di tangan Indonesia sendiri, karena 80 persen dipengaruhi pasar domestik.
- Neraca Perdagangan
- surplus dagang
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
GSW Terintegrasi Tol Semarang–Demak Bukan Wacana, BOPPJ Sebut Sudah Dibahas
-
Presiden Brasil: Maduro Harus Diadili di Venezuela, Bukan di AS
-
Tanggapi Kasus Amsal, Kementerian Ekraf Siapkan Pedoman Biaya Jasa Kreatif
-
Neraca perdagangan Provinsi Jawa Timur
-
BI: Surplus Neraca Perdagangan September 2025 Positif untuk Ketahanan Eksternal
-
Optimalkan Data Teritorial, Kodim 1710/Mimika Terima Tim Pulsaji Data Satkowil Pusterad
-
Neraca dagang pada November 2025 surplus
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.