Ekonom: Bursa RI Kembali Bergairah, Pelonggaran Global Picu Fase Bullish
Senin, 03 Nov 2025, 17:15 WIBJAKARTA â Pasar saham Indonesia memasuki fase bullish seiring tren pelonggaran moneter global yang mulai meluas. Penurunan suku bunga di sejumlah negara utama mendorong aliran dana masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Sentimen positif ini diperkuat oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik yang solid dan stabilitas makro yang terjaga. Namun, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan bank sentral utama dan potensi volatilitas global yang dapat memengaruhi keberlanjutan reli pasar.
Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Helmy Kristanto menilai pasar saham Indonesia berada dalam tren bullish (penguatan), seiring mulai berakhirnya fase pengetatan kebijakan moneter di tingkat global.
âPemangkasan suku bunga The Fed menunjukkan arah kebijakan yang lebih seimbang. Likuiditas global berpotensi membaik, memberi ruang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menjaga stabilitas tanpa tekanan suku bunga tinggi,â ujar Helmy sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Senin (3/11).
Helmy menilai kebijakan The Fed menghentikan pengurangan neraca (balance sheet runoff) per 1 Desember 2025, akan memperkuat sinyal pelonggaran likuiditas global.
Dengan demikian, hal itu dapat mempercepat arus masuk modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, yang memiliki imbal hasil aset dan prospek pertumbuhan ekonomi yang menarik.
âSentimen pasar mulai berbalik positif seiring turunnya suku bunga global. Dengan inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan ruang kebijakan yang masih luas, Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Kondisi ini membuat pasar Indonesia berpotensi tetap menarik bagi investor, bahkan di tengah ketidakpastian global,â ujar Helmy.
Dari sisi teknikal, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRIDS Chory Agung Ramdhani mengatakan IHSG berada dalam tren bullish yang solid, dengan pergerakan harga di atas rata-rata jangka pendek dan menengah.
Ia menjelaskan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai level 8.180, mendekati resistance di level 8.320, sementara support krusial berada di area 7.989.
âPenurunan suku bunga The Fed akan menjadi katalis fundamental yang kuat,â ujar Chory.
Pihaknya melihat kondisi global yang lebih longgar akan menjadi dorongan tambahan bagi pasar keuangan Indonesia menjelang akhir 2025.
âDengan likuiditas dunia yang mulai membaik dan aliran dana asing yang kembali masuk, pasar saham domestik berpeluang melanjutkan tren kenaikannya. Situasi ini juga bisa memperkuat sentimen window dressing, ketika investor cenderung meningkatkan aktivitas beli di akhir tahun,â ujar Chory.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Senin (03/11) pukul 11.50 WIB, IHSG terpantau menguat 99,57 poin atau 1,22 persen berada di posisi 8.263,45.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Cuaca Ekstrem Melanda Bekasi, Petani Diminta Ubah Pola Tanam demi Jaga Ketahanan Pangan
-
AHY Dorong Hunian TOD di Kota Besar untuk Atasi Keterbatasan Lahan
-
Tak Tanggung-tanggung, Maluku Sajikan 47 Event Wisata di 2026 untuk Dongkrak Kunjungan Turis
-
Liga Champions: Gol Penalti Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan di Kandang Newcastle
-
Whoosh Ngebut Lagi, 62 Perjalanan Siap Layani Penumpang
-
Tindak Lanjuti PP Tunas, Pramono: Pemprov DKI Segera Buat Pergub Turunan
-
Alcaraz Pertimbangkan Absen di Roland Garros demi Pemulihan Cedera
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.