Deklarasi APEC: Korea Selatan Akan Bangun Pusat AI Asia Pasifik untuk Dorong Inovasi dan Pertukaran Pengetahuan

Minggu, 02 Nov 2025, 13:38 WIB

GYEONGJU - Korea Selatan (Korsel) akan membangun Pusat Kecerdasan Buatan (AI) Asia-Pasifik guna mendorong inovasi dan pertukaran pengetahuan di kawasan, sejalan dengan Inisiatif Kecerdasan Buatan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026-2030 yang diadopsi pada KTT di Gyeongju, Sabtu (1/11).

"Memanfaatkan kombinasi keahlian dan sumber daya untuk menjembatani kesenjangan kapasitas AI dan menjajaki kemitraan yang saling menguntungkan guna memastikan bahwa semua negara dapat memperkuat kapasitas mereka dalam inovasi dan penerapan AI dan berpartisipasi penuh serta mendapat manfaat dari transformasi AI …". demikian kutipan dari dokumen resmi APEC.

Ket. Foto: Puncak KTT APEC, berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November di Korea Selatan. — Sumber: antara foto

"Dalam konteks ini, mengakui keputusan Korea sebagai negara tuan rumah untuk membangun Pusat AI Asia-Pasifik, yang akan didanai secara mandiri dan dioperasikan secara independen oleh Korea, guna mempromosikan pengembangan kapasitas dan inovasi terkait AI sekaligus memfasilitasi pertukaran informasi di kawasan," lanjut pernyataan tersebut.

Teknologi AI disebut perlu diterapkan di berbagai sektor, baik publik maupun swasta, serta di kalangan tenaga kerja, dan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat serta memperkecil kesenjangan peluang.

Pertemuan para Pemimpin Ekonomi APEC, yang menjadi acara puncak KTT APEC, berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November di Korea Selatan, untuk pertama kalinya dalam dua dekade.

Beri Manfaat

Dalam kesempatan itu, para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) sepakat bahwa perdagangan dan investasi harus dikembangkan dengan cara yang memberikan manfaat bagi semua pihak.

Kesepakatan tersebut tercantum dalam Deklarasi Gyeongju, Sabtu, setelah berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang berlangsung selama dua hari yang mempertemukan 21 anggota APEC—mewakili lebih dari setengah perekonomian dunia.

“Kami menegaskan kembali pengakuan bersama bahwa perdagangan dan investasi yang kuat sangat penting bagi pertumbuhan dan kemakmuran kawasan Asia-Pasifik, dan kami tetap berkomitmen untuk memperdalam kerja sama ekonomi guna menghadapi dinamika lingkungan global yang terus berkembang,” demikian isi dokumen tersebut.

Lebih lanjut, para pemimpin juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan perdagangan dan investasi yang mendorong ketahanan serta memberikan manfaat bagi semua pihak.

Ke-21 anggota ekonomi APEC tersebut mencakup Amerika Serikat, China, Jepang, Russia, Kanada, serta negara-negara lain di Asia Tenggara dan Pasifik, termasuk Indonesia, Peru, dan Chile.

Berbeda dengan deklarasi yang dikeluarkan pada pertemuan APEC sebelumnya, dokumen tahun ini tidak lagi memuat komitmen bersama untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral, yang mencerminkan semakin lebarnya perbedaan pandangan mengenai perdagangan di antara negara-negara ekonomi utama dunia.

Apakah dan sejauh mana para pemimpin akan mencapai konsensus tentang perdagangan bebas menjadi salah satu perhatian utama APEC tahun ini. Hal ini terutama dipengaruhi oleh kembalinya pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat dengan kebijakan “America First” serta perang dagang antara Washington dan Beijing.

Selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar negara anggota APEC mendukung tatanan perdagangan bebas berbasis Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam deklarasi bersama mereka. Namun, deklarasi tahun ini menunjukkan bahwa rujukan terhadap sistem WTO telah dihapus.

Antara tahun 2021 hingga 2024, seluruh deklarasi KTT APEC selalu mencantumkan sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan WTO “sebagai intinya”, yang pertama kali muncul dalam deklarasi tahun 2021, setelah berakhirnya masa jabatan pertama Trump.

Deklarasi para pemimpin APEC hanya dapat diadopsi berdasarkan konsensus penuh, artinya harus ada dukungan dari setiap anggota ekonomi tanpa terkecuali.

Selain isu perdagangan, Deklarasi Gyeongju juga menekankan kemajuan teknologi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) serta perubahan demografis — dua inisiatif utama yang diusung Korea Selatan sebagai tuan rumah tahun ini.

Untuk pertama kalinya, deklarasi APEC mengakui industri budaya dan kreatif sebagai pendorong pertumbuhan baru bagi kawasan Asia-Pasifik.

Deklarasi tersebut juga mencerminkan pemahaman bersama serta komitmen bersama antarnegara anggota untuk bekerja sama dalam bidang AI dan perubahan demografis, menurut Kantor Kepresidenan Korea Selatan.

Bersamaan dengan Deklarasi Gyeongju, para pemimpin juga mengadopsi dua dokumen terpisah yang membahas inisiatif AI dan respons terhadap perubahan demografis.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.