BEI Pangkas Target IPO pada 2025, Realistis terhadap Dinamika Pasar atau Sepi Peminat?

Rabu, 29 Okt 2025, 18:10 WIB

JAKARTA – Pemangkasan target Initial Public Offering (IPO) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) mencerminkan sikap realistis terhadap dinamika pasar modal yang sedang menghadapi tekanan global dan ketidakpastian ekonomi domestik.

Meskipun minat perusahaan untuk melantai di bursa masih ada, faktor seperti volatilitas pasar, kenaikan biaya pendanaan, dan kehati-hatian investor terhadap valuasi menjadi penghambat utama.

Ket. Foto: Jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (29/10/2025). — Sumber: Antara.

Langkah BEI ini menandakan adanya penyesuaian strategi agar kualitas emiten tetap terjaga di tengah kondisi pasar yang selektif.

Namun, keputusan tersebut juga mengisyaratkan tantangan yang lebih besar bagi upaya pendalaman pasar modal nasional, yang selama ini diharapkan menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan revisi terhadap target IPO menjadi sebanyak 45 perusahaan sepanjang 2025, dari target sebelumnya sebanyak 66 perusahaan.

Revisi itu berkaitan dengan baru adanya sebanyak 23 perusahaan yang menggelar IPO di pasar modal Indonesia per 29 Oktober 2025, dengan sebanyak 13 perusahaan masih berada dalam pipeline (antrean) menggelar IPO.

“Target tahun ini kita 45 (IPO), tahun depan kita targetnya 50 IPO saham,” ujar Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (29/10).

Namun demikian, Iman mengatakan bahwa BEI berfokus terhadap kualitas atau tidak hanya mengejar kuantitas perusahaan untuk menggelar IPO

Fokus itu tercermin dari sebanyak lima perusahaan merupakan lighthouse IPO dari sebanyak 23 perusahaan IPO, yaitu IPO dengan kriteria kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun serta free float sebesar 15 persen atau nilai kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp700 miliar.

Sementara itu, sebanyak 13 perusahaan dalam antrean IPO terdiri dari dua perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar, dan sebanyak enam perusahaan aset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta lima perusahaan aset skala besar di atas Rp250 miliar.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memproyeksikan mayoritas perusahaan yang berada dalam pipeline akan melaksanakan IPO pada tahun 2025

Hal itu tercermin dari hanya dua perusahaan di dalam pipeline yang menggunakan laporan keuangan per Juli 2025, sementara sisanya menggunakan laporan keuangan di semester I- 2025.

“Dengan catatan tidak terdapat concern terkait penawaran umum dan pencatatan oleh OJK dan BEI mempertimbangkan perusahaan-perusahaan tersebut masih dalam review evaluator BEI dan OJK,” ujar Nyoman.

Ia memastikan BEI senantiasa melakukan evaluasi pencatatan perusahaan tidak hanya dari sisi pemenuhan persyaratan pencatatan namun juga dari sisi kinerja perusahaan secara komprehensif untuk memastikan perusahaan yang tercatat memiliki kualitas yang baik.

“Kami berharap perusahaan-perusahaan yang saat ini berada di pipeline pencatatan saham dapat memenuhi hal tersebut sehingga dapat memenuhi ekspektasi para pemangku kepentingan dan meramaikan pencatatan perdana saham pada sisa akhir tahun 2025 ini,” ujar Nyoman.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.