KKI Soroti Risiko Galon Guna Ulang yang Dipakai Terlalu Lama
Minggu, 10 Mei 2026, 22:45 WIBJAKARTA â Aturan pembatasan masa pakai galon guna ulang menjadi langkah penting untuk menjaga standar kesehatan dan keamanan produk air minum dalam kemasan.
Kebijakan ini bertujuan meminimalkan risiko penurunan kualitas bahan kemasan akibat penggunaan berulang dalam jangka panjang yang berpotensi memengaruhi higienitas produk.
Di sisi lain, penerapan aturan tersebut juga menuntut kesiapan industri dalam memperkuat sistem pengawasan, distribusi, dan daur ulang agar tidak menambah beban lingkungan maupun biaya bagi konsumen.
Karena itu, keseimbangan antara perlindungan kesehatan, efisiensi industri, dan keberlanjutan lingkungan menjadi kunci dalam implementasi kebijakan ini.
Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menegaskan pentingnya aturan pembatasan masa pakai galon guna ulang untuk mengantisipasi peluruhan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum.
Ketua KKI David Tobing menyatakan, masih maraknya peredaran galon guna ulang berusia tua (ganula) di pasaran. Sebanyak 92 persen konsumen melaporkan masih menerima ganula yang rentan meluruhkan BPA ke dalam air minum.
Negara lain seperti Uni Eropa, menurut dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/5), telah mengambil langkah tegas dengan melarang total penggunaan BPA dalam bahan kontak pangan yang akan berlaku efektif per Juli 2026.
Larangan tersebut, lanjutnya, dikeluarkan menyusul temuan otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA) mengenai bahaya paparan kronis BPA.
Namun di Indonesia, tambahnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih memperbolehkan penggunaan BPA dan baru mewajibkan pelabelan peringatan BPA dengan masa tenggang hingga 2028.
âDi Eropa, galon BPA itu sudah dilarang per Juli tahun ini. Sayangnya aturan di Indonesia, pelabelan itu baru diwajibkan di tahun 2028. Selain itu, ada kekosongan regulasi masa pakai,â katanya.
David mengungkapkan, selama tiga tahun pihaknya melakukan aktivitas pemantauan intensif yang mana pada 2024 terhadap 450 responden, disusul investigasi langsung ke puluhan agen dan toko kelontong di Jabodetabek pada 2025.
Kemudian KKI membuka Kanal Pengaduan Konsumen sepanjang Maret hingga April 2026, tambahnya, dari 250 pengaduan yang masuk dari tujuh kota besar, mayoritas pelapor validasi bahwa mereka masih mengonsumsi air dari galon yang telah berusia di atas satu tahun atau ganula.
KKI juga menemukan bukti foto dari konsumen yang menunjukkan galon produksi tahun 2015, yang berarti telah berusia 11 tahun,masih bebas beredar dan digunakan untuk air minum.
Selain itu, lanjutnya sebanyak 30 persen konsumen melaporkan galon sudah dalam keadaan kotor, lusuh, atau kusam, 18 persen retak, dan 2 persen penyok.
Risiko paparan BPA, menurut dia, makin diperparah oleh buruknya perlakuan terhadap galon selama proses distribusi yakni galon-galon kosong maupun berisi air semuanya menggunakan bak terbuka.
Padahal, tambahnya, pakar polimer dari Universitas Indonesia sudah menegaskan bahwa paparan sinar matahari, pencucian kasar, dan usia pakai yang terlalu lama adalah pemicu utama peluruhan BPA.
"Pakar kemudian merekomendasikan batas aman penggunaan galon polikarbonat maksimal 1 tahun atau 40 kali pengisian ulang," katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.