Likuiditas Melimpah! BI Ungkap Uang Beredar Tumbuh Tinggi di September 2025
Kamis, 23 Okt 2025, 17:50 WIBJAKARTA â Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tercatat tumbuh tinggi, mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan kuatnya fungsi intermediasi perbankan.
Pertumbuhan M2 ini didorong oleh ekspansi kredit serta naiknya simpanan masyarakat, menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik.
Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan tetap mencermati laju pertumbuhan likuiditas agar tidak menimbulkan tekanan inflasi di tengah pemulihan ekonomi yang terus berlanjut.
Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh tinggi, yakni 8,0 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp9.771,3 triliun.
"Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6 persen (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/10).
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2 persen (yoy).
Perkembangan M2 pada September 2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Aktiva luar negeri bersih pada September 2025 tumbuh sebesar 12,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.085,3 triliun.
Penyaluran kredit pada September 2025 tumbuh 7,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya sebesar 7,0 persen (yoy).
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
Selain itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 6,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2025 sebesar 5,0 persen (yoy).
Bank Indonesia juga mencatat uang primer (M0) adjusted pada September 2025 yang tumbuh sebesar 18,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,3 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.152,4 triliun.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 37,0 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5 persen (yoy).
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Korea Utara Peringatkan Risiko Perang Tak Disengaja
-
Badan Karantina Indonesia Perkuat Penegakan Hukum Siber untuk Cegah Perdagangan Ilegal Hewan dan Tumbuhan
-
Kebakaran Hebat di Terminal Rawa Buaya, Para Pemilik Warung Menyelamatkan Diri
-
Panglima TNI Ajak Capaja Jadi Agen Perubahan dan Penjaga Nilai Pancasila
-
Di Bawah Terik Matahari, TNI Bantu Nelayan Gorontalo Jemur Ikan Teri
-
Kemenhub Siap Antisipasi Lonjakan Penumpang Pesawat Saat Libur Nataru
-
Uang beredar di masyarakat pada Agustus 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.