Tiongkok Desak 'Dialog Setara' dengan AS Saat CEO Apple Berkunjung ke Beijing

Jumat, 17 Okt 2025, 15:44 WIB

BEIJING - Tiongkok mendesak "dialog yang setara" dengan Amerika Serikat di tengah perang dagang yang memanas antara kedua kekuatan ekonomi tersebut, saat bos Apple Tim Cook berkunjung ke Beijing. 

Ketegangan antara Beijing dan Washington meningkat dalam beberapa minggu terakhir menyusul penerapan pembatasan besar-besaran oleh Beijing terhadap ekspor di sektor tanah jarang.

Ket. Foto: Bendera AS dan Tiongkok difoto di meja perundingan saat pertemuan bilateral antara AS dan Tiongkok, di Jenewa, Swiss, pada 10 Mei 2025. — Sumber: CNA/Reuters

Sebagai balasan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 100 persen yang akan berlaku mulai 1 November, tetapi pertemuan potensial yang akan datang pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, dapat memberikan peluang untuk mundur dari jurang tersebut.

Cook, yang secara rutin mengunjungi pasar utama Apple dan pusat manufaktur, bertemu dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao pada hari Kamis (16/10), menurut pernyataan resmi.

Selama pertemuan, Wang mendesak agar Beijing dan Washington "mencari solusi atas masalah melalui dialog dan konsultasi yang setara", kata pernyataan itu.

Wang juga mengatakan menyambut baik "peningkatan investasi" Apple di Tiongkok.

Pernyataan Kementerian Perdagangan mengutip Cook yang mengatakan bahwa ia menganggap hubungan ekonomi yang baik antara Tiongkok dan Amerika Serikat memiliki "signifikansi besar".

Bos Apple juga bertemu dengan Wakil Perdana Menteri He Lifeng, kepala negosiator perdagangan Beijing, kata kantor berita negara Xinhua.

Dalam pidatonya di hadapan dewan penasihat Sekolah Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua, yang diketuai oleh Cook, Ia mengatakan Tiongkok "bersedia memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan dengan negara-negara di seluruh dunia", menurut Xinhua.

CEO Blackstone Stephen A. Schwarzman juga berada di kota itu, dan bertemu Menteri Luar Negeri Wang Yi, kata pernyataan resmi.

"Hubungan Tiongkok-AS adalah hubungan bilateral terpenting di dunia saat ini," kata Wang kepada Schwarzman.

"Memutuskan hubungan bukanlah pilihan yang realistis atau rasional, dan konfrontasi hanya akan merugikan kedua belah pihak," tambahnya.

Menurut pernyataan itu, Schwarzman mengatakan ia berharap kedua belah pihak akan "menghilangkan kesalahpahaman".

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Andes

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.