APHI Dorong Penguatan Integritas Pasar Karbon Indonesia

Selasa, 07 Okt 2025, 17:30 WIB

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyampaikan dukungan penuh sektor kehutanan terhadap langkah pemerintah memperkuat integritas dan kredibilitas pasar karbon nasional.

Menurut Ketua Umum APHI Soewarso di Jakarta, Selasa (7/10), langkah strategis ini menjadi momentum penting untuk mengintegrasikan kebijakan lingkungan, investasi hijau dan tata kelola hutan berkelanjutan dalam satu kerangka yang terukur dan berkeadilan.

Ket. Foto: Simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang digelar Universitas Jambi bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Rabu (12/6). — Sumber: Antara

Dia menegaskan pengusaha hutan memiliki posisi strategis dalam ekosistem perdagangan karbon, karena sebagian besar potensi penyerapan emisi karbon berasal dari sektor kehutanan, termasuk hutan tanaman industri, restorasi ekosistem, dan rehabilitasi lahan kritis.

“Sektor kehutanan harus menjadi bagian dari solusi iklim, bukan hanya sebagai penyedia kayu, tetapi juga sebagai pengelola jasa lingkungan yang berkontribusi nyata pada penurunan emisi nasional,” ujar Soewarso di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga internasional, dan masyarakat merupakan kunci agar perdagangan karbon dapat berjalan efektif dan kredibel.

“Keterlibatan semua pihak akan memperkuat sistem verifikasi, meningkatkan kapasitas teknis di lapangan, serta memastikan nilai ekonomi karbon benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar hutan,” katanya.

Soewarso juga menyoroti pentingnya harmonisasi antara kebijakan perdagangan karbon dengan kebijakan perizinan dan pemanfaatan lahan.

"Kita harus memastikan tidak ada tumpang tindih kebijakan yang justru melemahkan integritas pasar karbon. Semua regulasi harus mengarah pada satu tujuan: keberlanjutan," tegasnya.

Dikatakannya, pelaku usaha kehutanan kini tengah bertransformasi menuju bisnis hijau dengan memperkuat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pengelolaan berbasis sains.

APHI, tambahnya, telah mengembangkan sejumlah inisiatif untuk mendukung aksi mitigasi, termasuk program carbon smart forestry dan pengembangan proyek blue carbon di wilayah pesisir.

“Semoga kolaborasi ini dapat dilaksanakan dengan baik dan memberikan manfaat nyata untuk mendukung aksi mitigasi penurunan emisi GRK dan pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan sudah mengidentifikasi 17,27 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) yang siap diperdagangkan di bawah skema perdagangan karbon dengan Verra.

"Saya mendeteksi cukup besar, hari ini saja Verra ini sebenarnya sudah di-listed mereka itu hampir 15 juta CO2e teman-teman di HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Jadi ini yang sudah diverifikasi oleh Verra, begitu kita MRA, mereka tinggal keluarkan dokumennya," kata dia setelah penandatanganan kerja sama saling pengakuan (Mutual Recognition Agreement/MRA) dengan standar karbon global Verra di Jakarta, Jumat (3/10).

Tidak hanya dari perusahaan yang sudah menjalani verifikasi, terdapat potensi 3 juta ton CO2e yang sudah siap untuk ditambahkan.

Secara rinci terdapat potensi kredit karbon 17,27 juta ton CO2e untuk diperdagangkan dalam skema Verra terbagi dalam sejumlah proyek, dengan target dapat dikeluarkan pada pertengahan 2026.

Karbon tersebut adalah karbon hayati atau yang berasal dari alam (nature based solution).

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.