Ada Tiga Pilihan Strategi Timnas

Selasa, 07 Okt 2025, 04:30 WIB

JAKARTA - Timnas Indonesia menghadapi dua laga terberat dalam sejarah perjalanan menuju putaran final Piala Dunia 2026. Pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Skuad Garuda dijadwalkan menantang tuan rumah Arab Saudi (9 Oktober) dan Irak (12 Oktober). Dua laga inilah yang akan menentukan mimpi menuju pentas dunia tetap menyala atau harus kembali ditunda.

Peluang lolos memang tipis. Football Meets Data menempatkan kemungkinan kemenangan Indonesia hanya 11 persen melawan Arab Saudi dan 15 persen ketika menghadapi Irak. Sebaliknya, Arab Saudi diunggulkan 70 persen. Sedangkan Irak 65 persen. Namun, sebagaimana kerap diingatkan pelatih Patrick Kluivert, sepak bola bukanlah matematika. Selalu ada ruang untuk kejutan, terutama bagi tim yang bermain dengan semangat tanpa henti.

Ket. Foto: Timnas Indonesia berlatih di Senayan, Jakarta. — Sumber: Antara/BAYU PRATAMA S

Persiapan Skuad Garuda dimulai sejak awal Oktober. Kluivert dan staf kepelatihan lebih dulu tiba di Jeddah untuk memimpin sesi latihan. Para pemain dari klub Asia Tenggara hingga Eropa dijadwalkan bergabung penuh 7 Oktober. Waktu singkat ini bukan hal baru, sebab Indonesia kerap hanya memiliki dua hingga tiga hari sebelum laga resmi. Bedanya, kali ini kerangka tim sudah bisa dibentuk lebih awal.

Secara historis, catatan pertemuan memang tak berpihak. Dari tujuh duel sejak 2004, Indonesia hanya menang sekali, kalah empat kali. Sisanya imbang. Namun, modal lima laga terakhir tanpa kekalahan, empat kemenangan dan sekali seri, membawa rasa optimistis baru.

Kluivert diyakini telah menyiapkan dua opsi strategi. Formasi tiga bek tengah plus dua bek sayap sempat memberi hasil impresif saat mengalahkan Tiongkok dan Bahrain. Namun, dalam laga FIFA Matchday September lalu, dia juga mencoba pola empat bek. Hasilnya, Indonesia menang 6-0 atas Taiwan, lalu imbang tanpa gol melawan Lebanon, tim yang karakter permainannya mirip Arab Saudi.

“Fleksibilitas akan jadi kunci. Melawan tim unggulan, Kluivert bisa saja memilih bertahan rapat dan mengandalkan serangan balik cepat. Tetapi, jika ingin memberi kejutan, Indonesia bisa mencoba menekan sejak awal untuk mencuri gol,” ujar Anang Hidayat, pengamat sepak bola nasional.

Menurutnya, ada tiga skenario yang bisa ditempuh. Pertama, menyerang sejak awal untuk mengejutkan lawan. Kedua, bertahan rapat dengan blok rendah untuk menutup ruang dan berharap pada bola mati. Ketiga, mengandalkan serangan balik cepat dengan memanfaatkan kecepatan sayap. “Pilihan Kluivert akan sangat ditentukan oleh kondisi psikologis pemain dan hasil di 15 menit pertama,” tambah Anang.

Dalam laga dengan margin tipis, bola mati kerap menjadi pembeda. Sepak pojok, tendangan bebas, hingga penalti adalah senjata yang bisa membuka peluang mencuri gol. Sejarah menunjukkan banyak tim kecil mampu melumpuhkan raksasa lewat skema ini.

Indonesia punya beberapa eksekutor mumpuni yang bisa memanfaatkan situasi bola mati. “Variasi tendangan sudut seperti short corner atau umpan swinger bisa membahayakan pertahanan Arab Saudi. Jika dimaksimalkan, peluang gol bisa muncul meski dominasi permainan ada di tangan lawan,” ujar Anang.

Kuncinya adalah latihan dan komunikasi. Set-piece yang dilatih berulang-ulang akan memberi variasi sekaligus menambah kepercayaan diri tim. Penalti pun tak boleh diabaikan, karena seringkali menjadi ujian mental terbesar bagi pemain.

Kontroversi Wasit

Laga panas ini semakin menyedot perhatian setelah AFC menunjuk wasit Ahmad Al Ali asal Kuwait sebagai pengadil. Nama ini memicu polemik besar, baik di kalangan suporter Indonesia maupun Arab Saudi.

Al Ali dikenal sarat kontroversi. Pundit Arab Saudi, Khalid Al Oqaili, bahkan pernah menyebutnya sebagai “wasit terburuk” yang kerap merugikan klub-klub besar Arab Saudi, terutama Al Hilal. Kritik itu semakin menguatkan keraguan publik ketika AFC menugaskannya memimpin laga sepenting ini.

Rekam jejak Al Ali memang penuh catatan. Dia dikenal mudah mengeluarkan kartu kuning dan beberapa kali membuat keputusan yang dianggap berpihak pada tuan rumah. Meski sudah mengantongi lisensi FIFA sejak 2019, reputasinya masih diperdebatkan. Kondisi ini membuat Indonesia harus lebih waspada.

  • Timnas Indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.