Sport Tourism Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lewat Malioboro Run 2025

Senin, 06 Okt 2025, 16:00 WIB

YOGYAKARTA - Sebanyak 7.000 pelari meramaikan ajang "Malioboro Run 2025" yang berlangsung di Yogyakarta pada Minggu (5/10) pagi. Lomba lari yang dipusatkan di jantung Kota Gudeg itu digelar Bank BPD DIY sebagai bagian dari promosi budaya melalui sport tourism sekaligus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui multiplier effect.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin pelepasan peserta kategori 5K pada pukul 05.30 WIB. Hadir pula Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X, Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, serta Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemda DIY

Sebelum melepas peserta, Sri Sultan berpesan agar para pelari menyesuaikan diri dengan kemampuan masing-masing dan tidak memaksakan diri.

“Saya mohon pada waktu berlari hati-hati di jalan. Kalau memang tidak kuat jangan dipaksakan untuk menyelesaikan. Hati-hati. Harapan saya semua bisa menyelesaikan sampai finish, tetapi yang tidak kuat jalan saja di perjalanan atau balik kanan. Hati-hati jangan sampai larinya Bapak/Ibu itu mengganggu kesehatan dirinya sendiri. Hanya anda sendiri yang bisa menjaga kemampuannya, sampai atau tidak. Sukses, semoga semua bisa sampai finish,” tutur Sri Sultan.

Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad menambahkan, Malioboro Run tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat dengan jumlah peserta mencapai 7.000 orang. Kehadiran ribuan peserta tersebut, menurutnya, berdampak positif pada okupansi hotel di Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

“Beberapa hotel okupansinya naik. Harapan kita mereka datang kan ke sini, paling enggak 2 malam 3 hari. Nah, itu ada spending dalam rangka untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Katakanlah mereka datang berdua dengan istri atau dengan anaknya, mereka spending ke sini untuk hotel paling enggak ada 1 juta, 1 juta setengah. Kemudian juga untuk makan, minum ya, dari 7.000 itu sudah berapa? Saya kira dampak multiplier effect-nya ke situ,” jelas Santoso.

“Efek bisnisnya apa? Dengan Safe for Run itu, alhamdulillah animo masyarakat melakukan Safe for Run untuk mendapatkan nomor kepastian untuk ikut tahun depan sudah banyak. Saat ini hampir 400 sekian yang sudah ikut. Berarti sudah dipastikan mereka dapat nomor untuk ikut tahun depan,” ujar Santoso.

Mengenai rencana penambahan rute, Santoso menegaskan hal itu perlu dipertimbangkan matang karena Malioboro Run telah mengantongi Standarisasi Rute Event dari Association of International Marathons and Distance Races (AIMS World Running). Ia menyebut penambahan kategori Full Marathon untuk saat ini belum memungkinkan.

Tahun ini, titik start dan finish berlokasi di Regol Barat Kantor Gubernur DIY. Dari total 7.000 peserta, kategori Half Marathon (21K) diikuti 1.070 orang, kategori 10K sebanyak 2.600 orang, dan kategori 5K diikuti 3.330 orang. Ketiganya melintasi rute bersejarah dan kawasan heritage di pusat Kota Yogyakarta.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Made Tozan Mimba, pelari 10K asal Bali yang tampil dengan kostum Gatotkaca. Tozan yang berprofesi sebagai dokter gigi itu mengaku menggunakan kostum sebagai bentuk personal branding sekaligus untuk memperkenalkan budaya Indonesia.

“Kenapa saya pakai kostum seperti ini? Tujuan saya enggak ngejar best kostum sebenarnya. Ini personal branding saya sebagai pelari dengan kostum. Saya membawa misi untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Untuk pakaian ini saya ada beberapa kostum,” katanya.

Ia menyebut, berlari dengan kostum warna mencolok bukan hanya menarik perhatian tetapi juga bisa menghibur peserta lain. Meski mengenakan kostum seberat 8 kg, Tozan berhasil menyelesaikan 10K dalam 50 menit—waktu terbaik pribadinya.

“Event ini sangat positif. Aku excited banget. Kenapa aku ikut? Pertama ini menjadi tempat pulang aku. Karena aku dulu kuliah di UGM, di FKG UGM. Ketika kembali ke sini aku menyebutnya bukan ke Jogja. Tapi aku kembali pulang ke Jogja. Nah ini aku senang banget sepanjang penyelenggaraan dari awal ambil race pack, postingan, bahkan sampai race day, dan untuk cheering segala macam, semuanya berbalut budaya. Ini sesuatu hal yang sangat unik, sangat powerful menurut aku, sehingga punya ciri khas tersendiri,” tutur Tozan.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.