Keren! Kopi Arabika Argopuro Situbondo Tembus Pasar Dunia, Holding UMKM Resmi Digeber

Senin, 06 Okt 2025, 20:30 WIB

SITUBONDO – Kopi Arabika Argopuro dikenal sebagai salah satu permata dari Jawa Timur yang mulai mencuri perhatian di pasar kopi spesialti. Tumbuh di lereng Gunung Argopuro dengan ketinggian di atas 1.200 mdpl, kopi ini punya karakter rasa yang khas — body-nya halus, tingkat keasamannya seimbang, dan ada sentuhan manis buah serta cokelat di akhir tegukan.

Cita rasa unik kopi arabika Argopuro ini lahir dari kombinasi faktor geografis, kesuburan tanah vulkanik, dan metode pascapanen yang cermat dari petani lokal. Karenanya, kopi Argopuro bukan cuma soal kenikmatan rasa, tapi juga cerminan bagaimana ekosistem kopi berkelanjutan bisa tumbuh dari ketinggian lereng hingga ke cangkir penikmatnya.

Ket. Foto: Ilustrasi - Kopi Arabika lereng Gunung Argopuro Situbondo, Jawa Timur. — Sumber: Antara.

Ekspor kopi arabika Argopuro Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sebanyak 15 ton ke Arab Saudi menandai inisiasi Holding UMKM pada klaster perkebunan yang merupakan program prioritas Kementerian UMKM untuk mengintegrasikan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ke dalam rantai pasok global.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengemukakan Kementerian UMKM meluncurkan program Holding UMKM yang bertujuan menciptakan ekosistem rantai pasok yang terintegrasi antara usaha mikro, kecil, menengah, dan perusahaan besar.

"Program Holding UMKM klaster perkebunan ini untuk mengatasi tantangan disconnectivity antara UMKM dan industri besar, seperti minimnya akses pembiayaan, teknologi dan pasar global," ujar dia usai melepas ekspor kopi milik kelompok masyarakat petani kopi di lereng Gunung Argopuro Situbondo, Senin (6/10).

Bagus menjelaskan, sektor perkebunan adalah salah satu dari 10 sektor prioritas berbasis klaster yang memberikan nilai tambah tinggi.

Dalam model Holding UMKM, lanjut dia, usaha menengah akan berperan sebagai operator dan menjalankan empat pilar utama, yakni pilar aggregator mengintegrasikan pengusaha UMKM dalam satu klaster untuk mencapai skala ekonomi dan efisiensi produksi.

Selanjutnya, kata dia, adalah pilar inkubasi untuk memberikan pendampingan, pembinaan dan penguatan kapasitas kepada usaha mikro dan kecil untuk naik kelas, serta pilar pemasaran untuk memperluas akses pasar domestik dan internasional dengan menjamin kontinuitas dan kualitas produk.

"Juga pilar pendanaan untuk membuka akses pembiayaan yang terintegrasi berbasis ekosistem untuk meminimalkan risiko," kata Deputi Bagus.

Dia menambahkan, melalui pendekatan klaster tersebut, Kementerian UMKM bertekad memastikan UMKM tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung, terintegrasi, dan saling menguatkan dalam satu ekosistem yang mendorong produktivitas, efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan.

"Dengan dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan dari pemerintah, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), swasta dan lembaga keuangan, kita dapat membangun ekosistem kemitraan yang tangguh, berdaya saing tinggi, dan mampu menembus pasar global secara berkelanjutan," kata Deputi Bagus.

  • kopi arabika Argopuro

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.