BPS Catat Inflasi 0,21 Persen di September 2025
Kamis, 02 Okt 2025, 01:00 WIBJakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2025. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga yang terjadi di sejumlah komoditas, meski masih dalam kategori terkendali.
Seperti dikutip dari Antara, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS MÂ Habibullah dalam jumpa pers "Rilis Berita Resmi Statistik" di Jakarta, Rabu (1/10), mengatakan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 108,74 pada September 2025
Adapun secara tahunan, inflasi mencapai 2,65 persen year-on-year (yoy). Sedangkan secara tahun kalender, inflasi sebesar 1,82 persen year-to-date (ytd).
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan inflasi 0,38 persen dan andil sebesar 0,11 persen.
Habibullah mengatakan bahwa sejak tahun 2023, harga cabai merah dan daging ayam ras selalu turun setiap September, hingga akhirnya berbalik naik pada September 2025.
Komoditas cabai hijau juga sempat deflasi pada September tahun lalu, namun kini berbalik mencatat inflasi pada September tahun ini.
Adapun inflasi bulanan pada September 2025 yang sebesar 0,21 persen terutama didorong oleh inflasi komponen inti (core inflation) sebesar 0,18 persen dengan andil inflasi sebesar 0,11 persen.
Secara tahunan, inflasi umum tercatat sebesar 2,65 persen year-on-year (yoy). Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 105,93 pada September 2024 menjadi 108,74 pada September 2025.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 5,01 persen dan andil inflasi sebesar 1,43 persen. Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah komoditas cabai merah.
Seluruh komponen tercatat mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,19 persen. Sementara inflasi pada komponen harga diatur pemerintah sebesar 1,10 persen serta komponen harga bergejolak sebesar 6,44 persen.
Berdasarkan wilayahnya, BPS mencatat bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami inflasi. Sebanyak 37 provinsi mengalami inflasi dan hanya satu provinsi yang mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di provinsi Sumatera Utara, yaitu 5,32 persen yoy. Sedangkan deflasi hanya terjadi di Maluku Utara, yaitu 0,17 persen yoy.
Peredam Inflasi
Pada kesempatan itu, Habibullah mengungkapkan, komoditas beras menjadi salah satu komponen peredam inflasi bulanan pada September 2025 dengan tercatat deflasi sebesar 0,13 persen dan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
âSecara historis di setiap bulan September, 2021 hingga 2024, secara umum beras mengalami inflasi. Sementara pada September 2025 mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen,â katanya
Lebih lanjut, Habibullah menyampaikan bahwa deflasi beras secara bulanan (mtm) pada September ini menandai deflasi kedua yang terjadi pada 2025. Sebelumnya, deflasi komoditas beras terjadi pada April 2025.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Arema FC Menangi "Charity Match" Lawan Arema All Stars 7-0
-
Petinju Indonesia Vicky Tahumil Junior Persembahkan Emas SEA Games 2025
-
Presiden Prabowo Soroti Potensi Dana Umat Bisa Mencapai Rp500 Triliun per Tahun
-
KPK Panggil Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Kasus Kuota Haji
-
Pencarian hari kedua korban mushalla ambruk di Ponpes Al Khoziny
-
Karya Tujuh Pemilik Hak Atas Kekayaan Lokal didampilkan di bus Transjakarta
-
Raja Setujui Kabinet Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.