Pemerintah Akan Bangun PLTS Kapasitas Besar untuk Kurangi Subsidi

Rabu, 01 Okt 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Pemerintah mengungkapkan rencana untuk mengefisiensikan subsidi energi terutama listrik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas besar. 

Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan, (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (30/9). Menkeu mengatakan dalam pembicaraan dengan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dan Presiden Prabowo Subianto pada pekan lalu, terlontar ide membangun PLTS untuk menggantikan sumber pasokan listrik saat ini.

Ket. Foto: Rapat kerja menteri keuangan bersama Komisi XI DPR - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Thomas A M Djiwandono (kiri), dan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal (SEF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/9). — Sumber: Koran Jakarta/M Fachri

“Investasinya cukup besar, mungkin sekitar 75 miliar dollar AS kalau jadi. Tapi pada waktu diskusi pertama saya melihat cost-nya masih tinggi, 9 cent dollar per kwh. Saya bilang, kalau gitu sih subsidinya nambah. Mereka sedang berusaha terus dan kemarin sudah ada berita bagus, pada saat sekarang harganya bisa 6 cent dollar per kwh,” kata Menkeu.

Purbaya pun meminta kalau kajian itu benar, agar lebih dimatangkan. “Kita, kalau perlu menggunakan Penyertaan Modal Negara (PMN), karena pada akhirnya akan menghilangkan subisidi yang terlalu besar untuk listrik,” tegas Purbaya yang barus saja melepas jabatan Ketua Dewan Komisioner LPS itu.

Menanggapi pernyataan Menkeu, pakar sekaligus praktisi energi terbarukan dari Universitas Brawijaya, Malang, Suprapto, mengatakan, ide Menkeu tersebut perlu didukung segenap pihak karena ia yakin Presiden Prabowo Subianto akan turut mendukungnya.

“Saya kira pemimpin kita sekarangadalah sosok yang punya visi hal itu terlihat bagaimana belanja negara di sektor pertahanan, meskipun budgetnya tinggi tapi itu termasuk investasi yang tak terelakkan untuk ke depannya,” kata Suprapto.

Begitu juga soal energi terbarukan, dia yakin Presiden Prabowo punya kepedulian tinggi karena bicara energi adalah kebutuhan primer dan juga transisi ke sana juga tidak terelakkan, cepat atau lambat pasti akan terjadi.

“Semakin awal kita berinvestasi, semakin baik hasilnya. Semoga ini didukung dalam penganggarannya oleh legislatif,” katanya.

Meskpin biaya kebutuhannya tinggi, tetapi itu hanya di awal dan seiring masifnya penggunaan energi terbarukan termasuk solar panel yang paling banyak, harga akan turun. Apalagi, dengan teknologi produksinya terus berkembang sehingga akan semakin efesien.

“Jika sudah berjalan tentu subsidi listrik bisa turun drastis, membantu tujuan efesiensi pemerintah. Ini hanya perlu didorong lewat regulasi dan insentif, supaya transisinya lebih cepat,” kata Suprapto.

Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan diskusi Presiden dengan Menteri Bahlil itu arahnya sudah benar bahwa PLTS memang bisa menurunkan subsidi listrik.

Hal yang perlu diluruskan kata Fabby adalah bahwa PLTS itu mahal tidak benar, sebab justru lebih murah dibanding pembangkit listrik lainnya termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit gas.

“Dulu mahal karena masalah teknologinya, sekarang teknologi mudah didapat dan semakin murah,”tegas Fabby.

Fabby menjelaskan, kenapa harga listrik batubara itu murah karena disubsidi dengan mekanisme Domestic Market Obligation (DMO).

“PLN kan beli dengan harga subsidi bukan dengan harga pasar,”tandas Fabby.

Oleh sebab itu, menurut Fabby ada tiga hal yang perlu secepatnya dilakukan PLN, pertama PLTS harus ditingkatkan. Dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik(RUPTL) PLN 2025-2034 hanya 17 Giga Watt (GW) maka ke depan harus dua kali lipat bahkan sampai 35 GW.

“Saat ini porsi PLTS dari total sistem kelistrikan itu baru 1 persen. Padahal mestinya 25 persen biar makin mengurangi subsidi listrik,” ungkap Fabby.

IESR menghitung, bila porsi PLTS sampai 25 persen, akan bisa menurunkan biaya pokok pembangkit kira kira 10 persen, karena tidak ada lagi biaya bahan bakar dan biaya angkut.

Kedua katanya adalah mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan PLTS. Khusus di daerah terpencil misalnya harus pakai PLTS, karena biaya subsidi PLTD ke daerah terpencil lebih mahal karena ongkos angkut energi yang besar. Dengan PLTS tidak ada lagi biaya angkut.

Jika dengan PLTD 3.000-5.000 rupiah/kilo watt hour (kwh) maka dengan PLTS akan semakin murah menjadi 2.000 rupiah/kwh dengan daya listrik yang sama.

Ketiga lanjut Fabby adalah mendorong penggunaan PLTS Atap plus Baterai di rumah rumah rakyat.

Semakin Murah

Sementara itu, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma mengatakan penggunaan PLTS memang semakin murah, apalagi jika dibangun dengan kapasitas yang lebih besar. Lihat saja PLTS Terapung Cirata dan beberapa contoh PLTS skala di atas 25 MW lainnya yangdengan harga sudah mendekati 6 cent dollar per kilo watt hour (kwh).

“Kalau kita lihat secara International, listrik yang dibangkitkan dari PLTS juga semakin murah. Hal yang diperlukan jika ingin menggantikan listrik yang sekarang adalah sumber daya apa yang bisa menjadi base load. Misalnya, pembangkit Hydrogen, pembangkit panas bumi dan juga listrik dari PLTS yang menggunakan baterai,”ungkap Surya.

  • Substitusi Energi

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.