Di Tengah Cabai Pedas dan Ayam Mahal, Beras Justru Jadi Peredam Inflasi September 2025

Rabu, 01 Okt 2025, 17:33 WIB

JAKARTA – Inflasi memanas pada September lalu, di mana menurut Badan Pusat Statistik (BPS), besarannya mencapai 0,21 persen secara bulanan (mtm), berbalik dari deflasi 0,08 persen pada Agustus 2025.

Menariknya, di tengah panasnya harga cabai dan ayam, beras justru jadi penyejuk inflasi September 2025. Komoditas utama ini mencatat deflasi 0,13 persen dengan andil minus 0,01 persen terhadap inflasi bulanan.

Ket. Foto: Ilustrasi - Beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual di Kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan ESDM Provinsi Sumatera Utara. — Sumber: ANTARA/ M. Sahbainy Nasution

Meski kecil, peran beras cukup signifikan karena jadi kebutuhan pokok mayoritas masyarakat. Artinya, stabilnya harga beras membantu meredam tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi, sekaligus menunjukkan efek nyata kebijakan pasokan pangan yang belakangan digenjot pemerintah.

“Secara historis di setiap bulan September, 2021 hingga 2024, secara umum beras mengalami inflasi. Sementara pada September 2025 mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah dalam jumpa pers Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu (1/10).

Lebih lanjut, Habibullah menyampaikan bahwa deflasi beras secara bulanan (month to month/mtm) pada September ini menandai deflasi kedua yang terjadi pada 2025. Sebelumnya, deflasi komoditas beras terjadi pada April 2025.

Selain beras, beberapa komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi peredam inflasi September 2025 antara lain bawang merah, tomat, bawang putih, dan cabai rawit.

Berdasarkan data historis tiga tahun terakhir, Habibullah mengatakan bahwa keempat komoditas tersebut mengalami deflasi setiap bulan September, kecuali komoditas bawang merah yang mengalami inflasi pada September 2024.

Komoditas bawang merah memberikan andil deflasi terbesar yakni 0,12 persen. Komoditas tomat memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, sedangkan andil deflasi komoditas bawang putih dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,01 persen.

“Perkembangan inflasi komoditas bawang merah, tomat, dan cabai rawit cukup berfluktuatif. Sementara komoditas bawang putih umumnya mengalami inflasi di awal tahun dan deflasi mulai pertengahan tahun, dan kembali inflasi di akhir tahun,” kata Habibullah.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 108,74 pada September 2025, sehingga inflasi bulanan tercatat sebesar 0,21 persen.

Inflasi bulanan terutama didorong oleh inflasi komponen inti (core inflation) sebesar 0,18 persen dengan andil inflasi sebesar 0,11 persen.

Komponen harga diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi sebesar 0,06 persen dan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Sementara komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,52 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen.

Secara tahunan, inflasi umum tercatat sebesar 2,65 persen year on year (yoy), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 105,93 pada September 2024 menjadi 108,74 pada September 2025.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 5,01 persen dan andil inflasi sebesar 1,43 persen. Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah komoditas cabai merah.

Seluruh komponen tercatat mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,19 persen. Sementara inflasi harga diatur pemerintah sebesar 1,10 persen serta inflasi harga bergejolak sebesar 6,44 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.