Dana Ribuan Triliun Masih Mengendap, Kredit Perbankan Masih Seret
Rabu, 17 Sep 2025, 18:20 WIBJAKARTA â Kinerja kredit perbankan menunjukkan tren peningkatan, namun pemulihannya belum sepenuhnya kuat. Pertumbuhan kredit masih ditopang oleh sektor konsumtif dan pembiayaan korporasi tertentu, sementara penyaluran ke sektor produktif strategis relatif tertahan akibat kehati-hatian bank dan lemahnya permintaan.
Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun likuiditas longgar dan suku bunga relatif stabil, faktor kepercayaan dunia usaha dan daya serap ekonomi riil masih menjadi kendala utama.
Dengan begitu, akselerasi kredit berkelanjutan membutuhkan dorongan dari sisi permintaan maupun iklim investasi yang lebih kondusif.
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa fasilitas pinjaman yang belum dicairkan masih cukup besar, tercermin dari undisbursed loan pada Agustus 2025 yang mencapai Rp2.372,11 triliun atau setara 22,71 persen dari plafon kredit yang tersedia.
âRasio undisbursed loan terbesar terutama pada sektor industri, pertambangan, jasa dunia usaha, dan perdagangan, dengan jenis kredit modal kerja,â kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2025 secara daring di Jakarta, Rabu (17/9).
BI mencatat bahwa kinerja kredit perbankan pada Agustus 2025 belum kuat, meskipun meningkat dari Juli 2025 sebesar 7,03 persen (yoy) menjadi 7,56 persen (yoy) pada Agustus 2025.
Dari sisi permintaan, Perry menjelaskan bahwa belum kuatnya perkembangan kredit dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha (wait and see), suku bunga kredit yang masih tinggi, dan lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usahanya.
Perkembangan inilah yang mengakibatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan masih cukup besar.
Sementara itu, dari sisi penawaran, kenaikan kredit didukung oleh longgarnya likuiditas perbankan sebagaimana tercermin dari tingginya rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,25 persen pada Agustus 2025.
Hal ini sejalan dengan ekspansi likuiditas moneter dan KLM Bank Indonesia, serta minat penyaluran kredit perbankan yang membaik sebagaimana tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement).
âNamun demikian, tingginya suku bunga kredit masih menjadi salah satu faktor penahan peningkatan kredit/pembiayaan lebih lanjut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,â kata Perry.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 berada dalam kisaran 8-11 persen.
Adapun ketahanan perbankan tetap kuat dan mendukung stabilitas sistem keuangan. Permodalan terjaga pada level tinggi, likuiditas perbankan tetap memadai, dan risiko kredit rendah.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada Juli 2025 tetap tinggi sebesar 25,88 persen sehingga masih mampu untuk menyerap risiko.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan terjaga rendah sebesar 2,28 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada Juli 2025.
âHasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,â kata Perry.
Ke depan, Bank Indonesia pun terus memperkuat sinergi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi global dan domestik yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kabar Baik! Pemkot Singkawang Tak Putus Kontrak PPPK Paruh Waktu
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Arus mudik sepeda motor di Pantura
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.