Serapan Minim Jadi Sinyal Bahaya Kualitas Belanja Pemerintah

Selasa, 16 Sep 2025, 23:59 WIB

JAKARTA – Serapan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) masih minim yang mencerminkan tantangan efektivitas program yang dihadapkan pada birokrasi, koordinasi lintas lembaga, serta kapasitas implementasi di lapangan.

Padahal, alokasi anggaran yang optimal sangat krusial untuk mempercepat perbaikan gizi masyarakat, menekan angka stunting, dan memperkuat ketahanan pangan.

Ket. Foto: Ilustrasi-Siswa menikmati menu hidangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). — Sumber: ANTARA/ Lia Wanadriani Santosa

Serapan yang rendah berpotensi menurunkan kepercayaan publik sekaligus mengurangi dampak kebijakan terhadap target pembangunan manusia.

Minimnya serapan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) disoroti oleh DPR RI, sebab serapan anggaran BGN hanya 18,6 persen. Kondisi seperti ini dapat memicu year-end-loss atau belanja tergesa pada akhir tahun yang akan berdampak pada kualitas layanan.

“Bagaimana strategi BGN untuk mengakselerasi penyerapan tanpa menurunkan kualitas?” tanya Anggota Komisi IX DPR RI Gamal dalam rapat dengar pendapat Komisi IX bersama dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM) dan Kepala BGN di Senayan, Jakarta, Senin (15/9).

Dia juga mengingatkan potensi terjadinya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), mengingat belanja barang yang mencapai 97,7 persen yang berdampak langsung pada puluhan juta masyarakat. Gamal memberi contoh kasus penyalahgunaan dana desa yang banyak menyeret kepala desa agar dijadikan pelajaran dalam pengelolaan anggaran BGN.

Selain itu, dirinya meminta agar BGN menetapkan indikator yang jelas dan terukur, mulai dari target penurunan stunting, peningkatan literasi gizi, hingga penerapan standar halal. “Dengan anggaran yang besar, perlu ada pembuktian nilai tambah yang nyata,” ujarnya.

Gamal pun mengusulkan konsep “Local First”, yakni kebijakan yang mewajibkan sebagian kontrak pengadaan diberikan kepada UMKM, BUMDes, dan koperasi lokal. Menurutnya, hal ini penting untuk menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

Tak hanya itu, Gamal juga mendorong agar diadakan evaluasi ketat terhadap pelaksana program dengan sistem pay for result atau berbasis kualitas, termasuk pemberian sanksi bagi pihak yang tidak memenuhi standar.

Gamal juga menanyakan apakah program gizi ini akan diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu atau berlaku secara umum. Ia menekankan agar kualitas dan pemerataan menjadi perhatian utama sebagai penutup pendalamannya dalam rapat tersebut.

Lemahnya serapan itu juga disoroti oleh Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda. Dia menilai, program prioritas seperti MBG banyak yang tidak akan terserap penuh hingga akhir tahun. "Dana dari MBG saya harap bisa disalurkan ke program sosial, salah satunya untuk bantuan tunai ke masyarakat yang membutuhkan,"ucap Huda.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan, hingga saat ini telah beroperasi 8.018 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut meningkat 565 unit dibandingkan data per 8 September lalu, yang telah mencakup 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan.

"Progres capaian Badan Gizi Nasional sampai hari ini, alhamdulillah hari ini sudah tercatat ada 8.018 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang sudah beroperasi. Ini bertambah kurang lebih 565 dibandingkan per tanggal 8 September, minggu lalu. Dan ini sudah mencakup di 38 provinsi, di 509 kabupaten, dan juga 7.022 kecamatan," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebutm

Namun demikian, Dadan akui masih ada 5 kabupaten yang belum terjamah Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yakni di Pegunungan Arfak, Papua Barat; Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT); Maibarat dan Tamraw, Papua Barat Daya; dan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim).

Lebih lanjut Dadan menambahkan bahwa SPPG merupakan instrumen penting penyerapan anggaran. Setiap SPPG, kata dia, dapat menyerap anggaran sekitar 900 juta rupiah hingga 1 miliar rupiah per bulan.

"Jadi perlu diketahui bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ini adalah boleh dikatakan sebagai mesin penyerapan anggaran. Jadi setiap satu SPPG berdiri, maka otomatis dalam satu bulan akan terserap antara Rp 900 (juta) sampai Rp 1 miliar. Jadi kenapa SPPG ini penting sekali, sehingga jika ibu/bapak perhatikan penyerapan anggaran pada tanggal 8 September kami baru menyerap Rp 13,2 miliar, sekarang Rp 15,7 miliar," sebutnya.

Anggaran Tahun 2026

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menyebutkan bahwa total anggaran BGN tahun depan, ditetapkan sebesar 268 triliun rupiah. Jumlah tersebut meningkat sekitar50,1 triliun rupiah dibandingkan pagu indikatif sebelumnya yang senilai 217,8 triliun rupiah

"Ini berdasarkan Surat Bersama Pagu Anggaran Menteri Keuangan dan Menteri PPN atau Kepala Bappenas, total anggaran tahun 2026 untuk Badan Gizi Nasional sebesar 268 triliun rupiah. Jadi, meningkat 50 triliun rupiah dari pagu indikatif," ucap Dadan.

"Jadi pada pagu indikatif kita akan mendapatkan217.860.184.715.000 rupiah menjadi 268 triliun rupiah dan ini bertambah kurang lebih 50.139.815.285.000 rupiah," sambung dia.

Secara klasifikasi, 95,4 persen anggaran atau sekitar 255,5 triliun rupiah difokuskan untuk program pemenuhan gizi nasional, sementara 4,6 persen atau12,4 triliun rupiah untuk program dukungan manajemen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.