Ekonom UGM Ingatkan Risiko Depresiasi Rupiah atas Kebijakan Penarikan Dana Rp200 Triliun

Kamis, 11 Sep 2025, 20:05 WIB

Isu ekonomi kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet pada Senin (8/9) di Istana Negara, Jakarta. Dalam perombakan tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa resmi ditunjuk menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan RI periode 2025–2029.

Dalam rapat bersama DPR, Purbaya menegaskan rencananya menarik dana sebesar Rp200 triliun yang tersimpan di Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas sekaligus menggerakkan sektor riil.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. kemensetneg.ri

Menanggapi hal itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Denni Puspa Purbasari, Ph.D., menilai kebijakan tersebut lebih menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ia menyebut langkah itu terkait dengan upaya menjaga keseimbangan internal melalui peningkatan likuiditas dalam perekonomian.

Namun, Denni mengingatkan risiko yang bisa muncul. “Akibatnya, dana mereka berpotensi dialihkan ke luar negeri. Apabila kondisi ini terjadi, kurs Rupiah akan terdepresiasi, yakni melemah terhadap mata uang asing,” kata Denni di Kampus FEB UGM, Kamis (11/9).

Menurutnya, kebijakan ekonomi idealnya diarahkan untuk menjaga keseimbangan internal maupun eksternal. Keseimbangan internal berarti stabilitas makroekonomi domestik, ditandai dengan tingkat inflasi yang terkendali dan kesempatan kerja penuh. Sementara keseimbangan eksternal ditunjukkan oleh stabilitas neraca transaksi berjalan dan aliran modal internasional.

Kendati demikian, kedua tujuan itu sering kali berseberangan. “Atau sebaliknya, kebijakan yang ditujukan untuk mengejar stabilitas eksternal, dapat berdampak negatif terhadap stabilitas internal negara itu,” ujarnya.

Denni menekankan, keputusan investasi selalu rasional dengan membandingkan tingkat keuntungan (returns) dan risiko. “Pak Purbaya perlu menimbang ini, agar depresiasi yang terjadi tidak terlalu drastis yang menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan tidak lagi dapat dibiayai,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebijakan mengenai likuiditas sejatinya merupakan ranah moneter. Sesuai mandat Undang-Undang, Bank Indonesia bertugas menjaga stabilitas Rupiah, baik dari sisi inflasi maupun nilai tukar.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) hingga semester I 2025 mencatat pelemahan. Neraca transaksi berjalan defisit sebesar 3,2 miliar dolar, sementara neraca finansial juga minus 5,6 miliar dolar. Kondisi ini berbeda dengan 2024, ketika neraca transaksi berjalan defisit, tetapi neraca finansial masih surplus tipis.

Defisit pada neraca finansial tahun ini terutama dipicu arus keluar investasi portofolio senilai 8 miliar dolar, baik pada obligasi maupun saham. Sementara itu, arus masuk foreign direct investment (FDI) hanya mencapai 5 miliar dolar. “Investasi portofolio sangat dipengaruhi oleh sentimen investor,” jelas Denni.

Sejauh ini, Rupiah tercatat hanya terdepresiasi 1,44% terhadap dolar AS sepanjang 2025. Namun pelemahan lebih dalam terjadi terhadap mata uang lain, yakni 4,62% terhadap Yuan, 8,17% terhadap dolar Singapura, 8,68% terhadap dolar Australia, dan 14,42% terhadap Euro.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.