El Nino Ancam Produksi Pangan, Pengelolaan Air dan Perlindungan Petani Perlu Diperkuat
Jumat, 14 Agu 2026, 06:30 WIBJakarta â Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai mitigasi dampak El Nino terhadap produksi pangan dalam beberapa bulan ke depan perlu memprioritaskan pengelolaan air dan perlindungan petani, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air.
âKebijakan 3â6 bulan ke depan harus fokus pada air dan distribusi,â kata Eliza, Kamis (13/8).
Menurut dia, El Nino memang meningkatkan risiko terhadap produksi padi, tetapi tidak serta-merta memicu krisis pangan. Kemarau yang lebih panjang dan kering berpotensi menekan luas tanam dan produktivitas, terutama di lahan tadah hujan serta wilayah dengan irigasi terbatas.
Sejumlah daerah yang perlu mendapat perhatian antara lain Lamongan, Bojonegoro, dan Gresik di Jawa Timur; wilayah tadah hujan di Jawa Tengah; Jawa Barat bagian utara; NTB, NTT, Lampung, Sumatera Selatan, hingga sebagian Sulawesi Selatan. Besarnya kontribusi Pulau Jawa terhadap produksi beras nasional membuat gangguan di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino saat ini telah aktif dalam kategori kuat. Puncak musim kemarau 2026 diprakirakan paling luas terjadi pada Agustus, mencakup 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Pompanisasi Bukan Solusi Tunggal
Eliza mengatakan pompanisasi dapat menjadi salah satu solusi selama masih tersedia sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan.
âPompanisasi efektif hanya di lokasi yang masih punya sumber air permukaan,â ujarnya.
Untuk daerah yang kekurangan sumber air, pemerintah dan petani perlu menyesuaikan kalender tanam, menggunakan varietas tahan kekeringan atau berumur genjah, serta melakukan diversifikasi sementara ke tanaman yang lebih hemat air seperti jagung dan kacang-kacangan.
Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2026 menyiapkan 56 ribu unit pompa air untuk mitigasi kekeringan nasional. Selain itu, perlindungan petani dinilai penting melalui asuransi pertanian serta bantuan benih dan pupuk.
Kementan juga menjalankan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare bagi lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana.
Untuk jangka pendek, Eliza merekomendasikan optimalisasi waduk, pompanisasi sesuai ketersediaan air, rehabilitasi irigasi kritis, modifikasi cuaca di lokasi strategis, serta penyesuaian kalender tanam berdasarkan prakiraan BMKG.
âMasalah yang diselesaikan ini dapat mencegah penurunan luas tanam dan lonjakan harga di konsumen,â katanya.
Mitigasi Harus Berbasis Risiko
Dalam jangka menengah hingga panjang, Eliza mendorong penguatan cadangan pangan, diversifikasi sumber air, penggunaan varietas tahan kekeringan, asuransi berbasis indeks cuaca, serta pemantauan kondisi pertanian menggunakan satelit.
Indonesia juga dinilai perlu mempercepat modernisasi irigasi, menerapkan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), memperkuat diversifikasi pangan lokal, memperbaiki tata kelola air, dan membangun sistem peringatan dini terintegrasi.
âIndonesia perlu membangun sistem pangan yang climate-resilient,â tuturnya.
Sejalan dengan itu, Kementan bersama Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat penguatan jaringan irigasi dan penyediaan sumber air. Pada 2026, Kementan menargetkan 89.600 kegiatan yang diproyeksikan mendukung pengairan sekitar 2,1 juta hektare lahan pertanian.
Hingga 25 Juli 2026, realisasi fisik program tersebut mencapai sekitar 46 persen dengan manfaat yang diperkirakan telah menjangkau sekitar 1 juta hektare. Program meliputi irigasi perpompaan dan perpipaan, embung, long storage, dam parit, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, serta optimalisasi air permukaan dan air tanah.
El Nino Tak Hanya Membawa Risiko
Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) menilai fenomena El Nino 2026-2027 memang membawa ancaman kekeringan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi di sejumlah sektor.
Peneliti Senior PPI ITB dan BRIN Elza Surmaini mengatakan data historis 1990-2024 menunjukkan El Nino dapat menurunkan produksi padi nasional sekitar 0,5â1,7 juta ton. Namun, dampaknya tidak terjadi secara merata di seluruh daerah.
Menurut dia, kondisi yang lebih kering juga dapat memicu upwelling yang menguntungkan perikanan tangkap, meningkatkan produksi garam, serta menurunkan muka air di lahan rawa lebak sehingga berpotensi memperluas areal tanam padi.
Karena itu, para pakar ITB dan BMKG mendorong perubahan pendekatan dari sekadar respons darurat menuju mitigasi berbasis risiko dan prediksi sains.
âTerjemahkan prakiraan menjadi keputusan, bukan sekadar informasi,â ujar Peneliti Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Air PPI ITB Fikry Purwa Lugina.
Direktur Perubahan Iklim BMKG A Fachri Radjab juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dua fase cuaca ekstrem, yakni risiko kekeringan saat puncak kemarau serta potensi hujan lebat dan angin kencang ketika memasuki masa peralihan musim.
Dengan demikian, menghadapi El Nino tidak cukup hanya mengandalkan bantuan atau pompa air saat kekeringan terjadi. Penguatan irigasi, ketepatan kalender tanam, perlindungan petani, dan pemanfaatan informasi cuaca secara cepat menjadi kunci agar ancaman terhadap pangan dapat ditekan sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Papua Nugini Kena Dampak El Nino, Bapanas Minta Jangan Panik: Stok Beras RI 5,17 Juta Ton
-
Messi Kembali Jadi Penyelamat, Argentina Singkirkan Tanjung Verde Lewat Laga Dramatis
-
Disnakertrans Cianjur: 42 PMI Alami Masalah di Negara Tujuan
-
Hadapi Kemarau, Pemerintah Salurkan 11.000 Pompa Air ke Daerah
-
Model Kemitraan PTPN I di Jember Jadi Contoh Agribisnis Inklusif Berkelanjutan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.