Stres Dengar Kabar Soal Demo, Berikut Tips dari Psikolog Redakan Rasa Cemas
Jumat, 05 Sep 2025, 09:10 WIBJAKARTA - Informasi mengenai demonstrasi dapat memengaruhi tingkat stres dengan sangat signifikan, terutama jika informasi tersebut bersifat negatif, tidak pasti, atau disertai kekerasan.
Pasalnya, hal itu menciptakan ketidakpastian sosial, mengguncang rasa aman, dan memicu perasaan tidak berdaya, meskipun informasi tersebut adalah bagian dari ekspresi demokrasi.Â
Intensitas paparan informasi, terutama melalui media sosial atau tinggal di dekat lokasi demo, dapat memperburuk stres dan kecemasan.Â
Psikolog Klinis Anak dan Remaja lulusan Universitas Indonesia Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa membatasi informasi soal demo yang berlanjut di beberapa wilayah akan membantu keluarga terhindar dari rasa stres dan merasa kewalahan.
"Supaya tidak stres dan kewalahan dengan informasi, tentu saja sangat penting untuk membatasi konsumsi informasi," kata Gisella saat dihubungi di Jakarta, Kamis (4/9).
Anggota Ikatan Psikolog Klinis (IPK) itu menyoroti bahwa banyak informasi seputar demo yang mengandung kekerasan, sehingga sangat rentan apabila anak, terutama remaja terlalu banyak menonton atau membaca berita tersebut.
Seluruh berita yang mengandung kekerasan berisiko membahayakan ataupun menyakiti kondisi keamanan anak baik secara fisik maupun psikologis.
Oleh karenanya, akan lebih baik jika keluarga memilih waktu-waktu tertentu saja untuk melihat berita.
Keluarga, katanya, juga dianjurkan untuk memilih sumber informasi dari media-media dengan kredibilitasnya yang bisa dipercaya agar tidak terhasut oleh provokasi maupun berita bohong (hoaks). Misalnya, pendapat para ahli komunikasi maupun pakar sosial dan politik.
"Biasakan untuk tidak langsung percaya pada informasi yang diterima pertama kali. Jadi jika bisa, lakukan pemeriksaan ulang ke sumber lain, yang mengenai informasi tersebut, sehingga kita punya beberapa sumber yang bisa dipercaya," katanya.
Orang tua juga perlu membiasakan diri memeriksa informasi yang sedang diikuti oleh anak di rumah. Menurutnya, sangat penting untuk mengetahui dari mana sumber berita yang dilihat beserta dengan platform untuk mengakses informasi itu.
Gisella mengatakan orang tua juga harus menanyakan topik yang sedang dibicarakan oleh anak dan teman-temannya, disertai dengan meminta pendapat anak soal isu tersebut melalui diskusi bersama keluarga.
"Dari situ mungkin kita bisa cek sejauh mana pemahamannya dan hal-hal apa yang mungkin kita bisa kasih juga, informasi atau ide sumber informasi yang reliable," kata dia.
Dengan begitu anak-anak ataupun remaja mempunyai referensi yang jelas dan dapat dipercaya. Anak juga akan terbiasa mencari informasi melalui media yang kritis dan memiliki perspektif yang baik.
- Mengelola Stres
- Aksi Demonstrasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pembukaan Kantor Cabang KB Bukopin Syariah di Bendungan Hilir
-
Dukung Ekosistem Pesisir, Pengelola Tol Bakter Tanam 1.000 Bibit Mangrove
-
Ekonom UI: Program MBG Dorong Sektor Pertanian dan Pemberdayaan Perempuan
-
BEM UI Gelar Aksi Solidaritas untuk Aktivis KontraS Andrie Yunus di Gambir
-
Ada 5.750 Kuota Beasiswa LPDP di 2026
-
Susul Australia, Sri Lanka Pertimbangkan Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah Umur
-
Tiki Perkuat Layanan untuk UMKM Makanan dan Minuman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.