Bank Dunia Desak Negara-negara Lakukan Gerakan Baru Lawan Polusi

Rabu, 03 Sep 2025, 01:00 WIB

LONDON – Seorang pejabat senior Bank Dunia baru-baru ini mengatakan kepada Reuters bahwa lahan yang terdegradasi, udara yang tercemar, dan tekanan air menimbulkan ancaman ekonomi global secara langsung, tetapi penggunaan sumber daya alam yang lebih efisien dapat mengurangi polusi hingga setengahnya. 

"Kerusakannya sangat parah terutama bagi negara-negara berpendapatan rendah yang paling terancam oleh kemiskinan, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati," kata Direktur Senior Bank Dunia, Axel van Trotsenburg.

Ket. Foto: Direktur Senior Bank Dunia, Axel van Trotsenburg saat Pertemuan G20 di Nusa Dua, Bali, Beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/SONNY TUMBELAKA

Berbicara bersamaan dengan penerbitan laporan baru pada Senin (1/9), ia mengatakan bahwa sekitar 80 persen orang di negara-negara berpendapatan rendah terpapar pada ketiganya dan Bank Dunia berkomitmen untuk menanggapi bahkan ketika banyak negara memangkas anggaran bantuan.

"Komitmen kami... adalah mengakhiri kemiskinan di planet yang layak huni, titik. Kami tidak akan goyah dalam hal ini," kata van Trotsenburg.

Ia juga menekankan bahwa dengan menggunakan sumber daya alam secara lebih efisien, polusi dapat dikurangi hingga separuhnya. Meskipun banyak negara memangkas anggaran bantuan, Bank Dunia berkomitmen untuk terus membantu negara-negara berkembang merespons krisis ini.

Di antara negara-negara yang paling terdampak adalah Burundi, di mana delapan juta orang menghadapi risiko air dan polusi udara, dan tujuh juta orang menghadapi degradasi lahan. Di Malawi, 12 juta orang menghadapi ketiga risiko tersebut, menurut laporan tersebut.

Secara lebih luas, 90 persen populasi dunia menghadapi setidaknya satu tantangan, dengan laporan yang mendesak negara-negara untuk menggunakan kembali subsidi yang saat ini dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan yang merugikan.

Laporan ini diterbitkan di tengah situasi politik yang memanas menjelang perundingan iklim COP30 di Brasil pada bulan November. Bank Dunia dan lembaga pemberi pinjaman multilateral lainnya juga sedang menunggu hasil tinjauan AS atas operasi mereka yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Februari.

Bank Dunia akan memberikan bukti yang didukung data untuk menginformasikan diskusi tentang degradasi lingkungan di antara pemerintah anggotanya, kata van Trotsenburg.

Dampak Kekeringan

Laporan itu memperkirakan bahwa hutan membantu sekitar setengah dari awan hujan di dunia terbentuk dan mengatakan penggundulan hutan mengurangi curah hujan dengan kerugian sebesar 14 miliar dollar AS per tahun untuk wilayah sembilan negara di Amazon saja, sebuah pukulan material bagi negara-negara yang terkena dampaknya.

Hal ini juga berarti lanskap kurang mampu menyimpan dan melepaskan kelembapan secara perlahan seiring waktu. Hal ini memperparah dampak kekeringan dan mengakibatkan kerugian sebesar 379 miliar dollar AS, atau 8 persen dari output ekonomi pertanian global.

Meskipun ancaman ekologi sering dianggap jauh, laporan tersebut berfokus pada dampak ekonomi yang terjadi saat ini.

  • Ancaman Ekologi

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.