4 Sindiran Pedas Gus Dur untuk DPR: Dari Playgroup, Anak TK, Sampai Julukan Profokator yang Masih Bikin Panas!
Senin, 01 Sep 2025, 10:15 WIBJAKARTA - Setiap kali anggota DPR bikin ulah dengan kebijakan atau pernyataan kontroversial mereka, publik hampir selalu punya cara unik untuk meluapkan kekesalan dengan mengutip sindiran legendaris dari Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.Â
Presiden keempat RI ini memang dikenal paling berani, bahkan tak segan menyentil wakil rakyat dengan humor pedas yang tetap terasa manis bagi telinga rakyat.
Gus Dur bukan tipe pemimpin yang asal marah-marah. Kritiknya justru dikemas dengan guyonan cerdas, yang tajamnya bisa mengiris lebih dalam ketimbang teriakan lantang. Tak heran, hingga puluhan tahun setelah kepergiannya, warisan sindirannya ke DPR masih relevan.
Puncak perseteruan Gus Dur dengan parlemen terjadi pada 23 Juli 2001. Ia berani mengeluarkan dekret yang salah satunya berisi rencana pembubaran DPR/MPR.Â
Walaupun langkah itu gagal, keberaniannya menjadi legenda abadi. Namun, di luar tindakan bersejarah tersebut, ada empat sindiran yang hingga kini terus diingat publik.
1. DPR Taman Kanak-Kanak
Dalam sebuah sidang paripurna, Gus Dur frustrasi karena penjelasannya soal rencana membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial terus dipotong debat kusir.Â
Dengan santai, Gus Dur melontarkan kalimat ikonik, âEnggak jelas bedanya DPR dengan TK.â Kalimat itu langsung bikin heboh Senayan.
2. Turun Level dari TK ke Playgroup
Tak berhenti di sana, Gus Dur kembali melempar sindiran ketika situasi politik makin ricuh karena perebutan kekuasaan antar-koalisi.Â
Ia bilang, DPR bukan lagi setingkat TK, tapi malah melorot jadi Playgroup. Pesannya jelas: alih-alih dewasa, kelakuan wakil rakyat makin kekanak-kanakan.
3. Menyesal Samakan dengan Anak-Anak Suci
Sindiran berikutnya bahkan lebih pedas. Gus Dur mengaku menyesal pernah membandingkan DPR dengan anak-anak, karena menurutnya hal itu merendahkan anak-anak yang suci, cerdas, dan kreatif.Â
Bandingkan dengan anggota DPR, yang menurut Gus Dur justru âkotor dan kreatif mencari celah uangâ. Sebuah kritik keras yang menelanjangi integritas wakil rakyat.
4. Julukan Prof = Profokator
Sindiran terakhir datang dalam bentuk humor personal. Ada anggota DPR yang bangga dipanggil âProfâ.Â
Tapi menurut Gus Dur, itu bukan singkatan dari profesor, melainkan provokator! Sebuah tamparan lucu sekaligus getir tentang bagaimana banyak anggota dewan lebih suka bikin gaduh daripada kerja nyata.
Keempat sindiran ini membuktikan satu hal: kritik tak selalu harus disampaikan dengan emosi membara. Dengan humor, Gus Dur justru berhasil meninggalkan pesan abadi yang hingga kini terasa semakin relevan.Â
Saat DPR kembali jadi sorotan, kata-kata Gus Dur seakan hadir lagi, menegaskan, wakil rakyat mestinya berpihak pada rakyat, bukan bermain-main seperti anak TK.
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
Warga Jerman Mulai Ragukan Posisi AS Terkait Perdamaian Dunia
-
Lebaran di Sel, Dua Pemuda Edarkan Ganja di Jakpus
-
PSG Bantai Nice 4-0, Puncak Klasemen Liga Prancis Kembali Direbut "Les Parisiens"
-
Google Siapkan Fitur Avatar 3D di Gemini Android, Wajah Digital Siap Gantikan Kamera Asli
-
BMKG Prakirakan Sejumlah Kota Besar Diguyur Hujan Disertai Petir
-
APBD 2026 Tetap Kokoh Meski Dana Bagi Hasil Dipotong
-
Jalan Berlubang di Karawang Picu Kecelakaan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.