Pacu Jalur Sedot Jutaan Pengunjung, Tradisi Desa Menjelma Jadi Panggung Dunia
Rabu, 27 Agu 2025, 16:59 WIBPEKANBARU - Pacu Jalur di Riau kian menunjukkan daya tariknya sebagai magnet wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.Â
Tradisi lomba mendayung perahu panjang yang berakar dari budaya masyarakat Kuantan Singingi ini bukan sekadar ajang olahraga rakyat, melainkan juga pertunjukan budaya, ritual sosial, hingga simbol identitas daerah.Â
Setiap perahu atau jalur dibangun dengan gotong royong, diberi nama khas, dan dihiasi dengan ornamen tradisional yang merepresentasikan kebanggaan komunitasnya.
Dari perspektif pariwisata, pacu jalur memiliki keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain.Â
Ribuan penonton rela memadati tepian Sungai Kuantan, menciptakan suasana meriah yang mampu menggerakkan ekonomi lokal. Hotel, kuliner, transportasi, hingga produk UMKM ikut terdongkrak oleh gelaran ini.Â
Tidak hanya itu, pacu jalur juga menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi budaya, sebab wisatawan mancanegara kerap tertarik menonton tradisi yang autentik, sarat nilai sejarah, dan menghadirkan pengalaman wisata berbasis kearifan lokal.
Secara analitis, pacu jalur bisa diposisikan sebagai salah satu *event tourism unggulan* Riau.Â
Namun, agar dampaknya berkelanjutan, dibutuhkan manajemen yang lebih profesional: mulai dari promosi digital yang lebih luas, kolaborasi dengan agen perjalanan, hingga pengembangan infrastruktur pendukung.Â
Jika dikelola dengan tepat, pacu jalur bukan hanya pesta rakyat tahunan, melainkan juga instrumen strategis untuk meningkatkan citra pariwisata budaya Indonesia di kancah global.
Dinas Pariwisata Riau mengklaim sebanyak 1,6 juta orang wisatawan domestik dan mancanegara menyaksikan Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi selama 5 hari pelaksana ajang tradisional tersebut pada 20-24 Agustus lalu.
Kepala Dispar Riau, Roni Rakhmat, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan tersebut berdasarkan hitungan yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Kuansing. Kunjungan tahun lalu 1,3 juta orang sehingga tahun 2025 diprediksi meningkat dengan viralnya pacu jalur di media sosial hingga mendunia.
"Itu kunjungan selama lima hari, kalau bagaimana cara hitungnya itu teknis. Ini data dari Pemkab Kuansing, katanya bekerja sama dengan badan pusat statistik," kata Roni di Pekanbaru, Rabu (27/8).
Yang jelas lanjutnya kunjungan tahun ini pasti meningkat dari tahun lalu yang jumlahnya 1,3 juta orang. Pasalnya fenomena "aura farming" di media sosial membuat pacu jalur mendunia.
Berdasarkan arena penonton di pacu jalur diperkirakan ada sepanjang 1,5 kilometer dan lebar 1 km pada dua sisi Tapian Narosa Sungai Kuantan tersebut. Jika satu orang memerlukan ruang 30 centimeter maka paling tidak 500 ribu orang menyaksikan ajang tersebut dalam satu hari.
Namun begitu tidak setiap hari dihitung 500 ribu dan diprediksi hanya pada dua hari terakhir saja. Tiga hari lainnya diprediksi penonton berkisar 200-400 ribu menyaksikan ajang tersebut.
Untuk wisatawan asing terdata ada 1.374 orang yang datang langsung untuk menyaksikan tradisi budaya tersebut. Padahal pada tahun lalu jumlahnya hanya mencapai puluhan orang.
Wisatawan asing yang datang berasal dari berbagai negara, mulai dari Nigeria, Maroko, Turki, Slovenia, Brasil, Malaysia, Singapura, Belanda, Australia hingga Amerika Serikat.Â
Fenomena ini lanjutnya menunjukkan bahwa promosi Pacu Jalur melalui berbagai media, terutama media sosial, berhasil menjangkau audiens di seluruh dunia.
- Pacu Jalur
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tradisi Pacu Jalur Sudah Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Indonesia
-
Timnas Putri Siap Hadapi Arab Saudi saat FIFA Matchday
-
Jadwal Lomba Pacu Jalur 2025 di Kuantan Singingi, Riau
-
Promo Spesial, PT. KAI Berikan Keringanan Masyarakat Dapat Tiket dengan Harga Mulai Rp100 Ribuan
-
Tarian Bocah Pacu Jalur Guncang Dunia! PSG dan AC Milan Sampai Ikut Joget Aura Farming!
-
Blue Ghost, Wahana Antariksa Milik Swasta Berhasil Mendarat di Bulan
-
Gubernur Riau Jadikan Dikha "Aura Farming" Pacu Jalur Jadi Duta Pariwisata
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.