Indonesia Siap Gali Potensi Perdagangan Karbon Saat COP30 di Brasil
Rabu, 27 Agu 2025, 17:57 WIBJAKARTA - Pemerintah akan menggali potensi perdagangan karbon di Konferensi Perubahan Iklim Ke-30 (COP30) yang diadakan Brasil, dengan beberapa negara sudah memperlihatkan ketertarikan untuk membeli karbon Indonesia.
"Kita juga akan fokus dengan penjualan, karena ada sesi khusus untuk seller meet buyers, di mana mungkin kita akan menjelaskan dan mendorong agar adanya penjualan karbon di situ," ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono dalam rapat persiapan delegasi RI di Jakarta, Rabu (27/8).
Wamen Diaz mengatakan adanya pertemuan di Paviliun Indonesia untuk menjabarkan potensi perdagangan karbon di Tanah Air termasuk karbon hayati (nature based) termasuk dari sektor kehutanan dan kelautan serta yang berasal dari sektor lain termasuk energi.
Beberapa negara sudah memperlihatkan ketertarikan terkait dengan potensi perdagangan karbon di Indonesia termasuk Norwegia yang sudah menyatakan tertarik untuk membeli karbon sebesar 12 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
Namun, skema yang dipertimbangkan sedikit berbeda dari membeli langsung karbon, tetapi dilakukan dalam bentuk investasi untuk proyek pembangunan berkelanjutan termasuk energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
"Norwegia itu nanti bersedia untuk mensubsidi proyek-proyek solar panel yang tidak ada economic viability, sehingga proyek itu bisa berjalan," jelasnya.
Terdapat juga potensi kerja sama karbon dengan Korea Selatan untuk kredit karbon dari sektor kelapa sawit dan dengan Jepang untuk Renewable Energy Certificates (RECs).
"Korea juga sudah menyatakan interest terkait carbon credit dari POME (Palm Oil Mill Effluent), dari sektor kelapa sawit. Nanti kita akan lihat konvensionalisasinya seperti apa karena kita sudah punya MoU sebenarnya dengan Korea sebelumnya yang akan expire pada 2026," tutur Diaz.
Indonesia juga tengah memproses perjanjian pengakuan Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan salah satu badan standar dan registrasi pasar karbon Verra, setelah sebelumnya telah mencapai kesepakatan dengan Gold Standard pada tahun ini.
"Tentunya kita akan dorong perdagangan karbon lebih besar lagi, artinya MRA-MRA dengan international standard, semoga bisa terus kita lakukan," demikian Diaz Hendropriyono. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
WhatsApp Hentikan Dukungan Android 5, Jutaan Pengguna Terancam Kehilangan Akses
-
Usai Santap MBG, Puluhan Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Alami Mual hingga Diare
-
Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon, ESGIN dan ASPEBINDO Jalin Kolaborasi Strategis
-
Wamenaker: Investasi Harus Berdampak Nyata pada Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas.
-
Gubernur Pramono Anung Tegaskan Kebijakan Pemprov DKI Berbasis Data di WAPOR 2026
-
Wali Kota Bandung Ungkap Pramuka Jadi Pilar Pembentukan Generasi Berkarakter
-
Cerita Lyodra Nge-rap Bareng Silet Open Up di Soundtrack Film "Moana" versi Live-Action
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.