Dukung Ketahanan Pangan, Profesor ITS Kembangkan Tanaman yang Beradaptasi di Lahan Kering
Selasa, 26 Agu 2025, 14:16 WIBSURABAYA - Tantangan keterbatasan lahan subur di Indonesia mendorong riset untuk menemukan solusi ketahanan pangan masa depan. Menjawab hal tersebut, Guru Besar ke-225 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Tutik Nurhidayati MSi mengembangkan penelitian mengenai fisiologi tumbuhan, khususnya adaptasi tanaman terhadap cekaman abiotik di lahan suboptimal.
Profesor dari Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS ini menekankan bahwa tumbuhan memiliki peran vital sebagai penyedia energi utama bagi kehidupan di bumi. Menurutnya, pemahaman mekanisme fisiologis tumbuhan sangat penting agar tanaman tetap produktif di tengah perubahan iklim. âKarena sifatnya sesil atau tidak bisa bergerak, tumbuhan harus beradaptasi dengan kondisi ekstrem seperti kekeringan, salinitas, maupun genangan,â paparnya.
Dalam penelitiannya, Tutik menemukan gen-gen penting yang membantu tanaman bertahan di kondisi ekstrem. Pada porang, gen yang mengatur pembentukan gula dan dinding sel berperan dalam menghadapi kekeringan dan salinitas. Sementara pada tembakau, gen yang mengatur metabolisme dan hormon stres membantu tanaman tetap hidup saat tergenang air. âSetiap spesies punya cara berbeda untuk beradaptasi, bahkan satu gen saja bisa menjadi temuan baru,â jelasnya.
Selain itu, Tutik juga memanfaatkan teknologi pendukung seperti aplikasi mikoriza, rhizobakteria, hingga teknik kultur jaringan. Dengan pendekatan tersebut, tanaman dapat bertahan sekaligus meningkatkan produktivitas meski ditanam di lahan marginal. Sebagai contoh, kultur jaringan porang yang dikembangkan mampu menyediakan bibit unggul bebas penyakit sepanjang tahun, sehingga pasokan bahan pangan tidak lagi bergantung pada musim.
Lebih jauh, riset ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan memanfaatkan lahan suboptimal yang sebelumnya tidak produktif, ketersediaan sumber pangan bisa meningkat. âMelalui fisiologi tumbuhan, kita dapat menciptakan bibit unggul dan memperbaiki lahan dengan bantuan mikroorganisme, sehingga produksi tanaman tetap optimal,â ungkap perempuan kelahiran Magetan, 10 September 1972 ini.
Tak hanya di bidang biologi, Tutik juga menggandeng kolaborasi lintas disiplin. Bersama peneliti bidang ilmu kimia dan teknik kimia, ia mengembangkan porang menjadi tepung dan beras glukomanan sekaligus mengurangi kandungan oksalatnya. Kolaborasi ini memperluas manfaat riset hingga ke industri pangan dan kesehatan.
Terakhir, ibu dua anak ini menegaskan bahwa penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2 tentang ketahanan pangan. Menurutnya, fisiologi tumbuhan bukan sekadar teori, tetapi kunci untuk menciptakan varietas unggul yang mampu bertahan di kondisi ekstrem. âDengan fisiologi tumbuhan, kita bisa menjaga ketersediaan pangan sekaligus menyelamatkan bumi dari ancaman krisis lingkungan,â pungkasnya.Â
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Antisipasi Sungai Kapuas Surut, Pertamina Tambah Armada Darat untuk Perkuat Distribusi BBM
-
Atasi Kebakaran Pabrik di Tangerang, Sembilan Mobil Damkar Dikerahkan
-
Joshua Zirkzee Jadi Penentu Kemenangan Belanda atas Serbia
-
Dukung MotoGP Mandalika 2026, Garuda Indonesia Group Siapkan 14 Ribu Kursi
-
Polusi Udara Surabaya Memburuk Saat Cuaca Panas, PM2.5 Sempat Masuk Kategori Tidak Sehat
-
Selain Pepaya, Ini Makanan dan Minuman Terbaik yang Bisa Atasi Sembelit
-
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Diminta Beri Teladan Penuhi Panggilan KPK
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.