Polusi Udara Surabaya Memburuk Saat Cuaca Panas, PM2.5 Sempat Masuk Kategori Tidak Sehat
Minggu, 18 Okt 2026, 00:02 WIBSURABAYA â Cuaca panas yang melanda Surabaya bukan hanya membuat warga kepanasan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas udara. Pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes pada 15 Oktober 2026 menunjukkan, konsentrasi partikel halus PM2.5 sempat masuk kategori Tidak Sehat, terutama pada pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.
Pakar lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Arie Dipareza Syafei, mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Paparan polusi udara berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terlebih ketika kualitas udara memburuk di tengah cuaca panas.
âHal ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius,â ujar dosen Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut.
Menurut Arie, cuaca panas bukanlah sumber langsung munculnya PM2.5. Namun, kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan dan penyebaran polutan di udara. Sinar matahari yang terik, misalnya, dapat meningkatkan pembentukan ozon, sementara pemanasan permukaan memengaruhi proses pencampuran udara.
Di sisi lain, sumber pencemaran justru berasal dari berbagai aktivitas manusia. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran terbuka, hingga debu dari lahan terbuka menjadi faktor yang dapat memperburuk kualitas udara di Kota Pahlawan.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama pada pagi hari ketika aktivitas kendaraan mulai meningkat. Pada waktu tersebut, lapisan udara yang berfungsi mencampurkan polutan masih relatif dangkal sehingga pencemar lebih mudah terkumpul di dekat permukaan.
âPeningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer,â jelas Arie, yang juga menjabat Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim ITS.
Kualitas udara sendiri dinilai melalui pengukuran sejumlah polutan, antara lain PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NOâ), sulfur dioksida (SOâ), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran tersebut menjadi dasar penentuan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), yang memberikan gambaran tingkat pencemaran serta potensi risikonya terhadap kesehatan.
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM2.5 ditetapkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik (µg/m³) untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Sementara itu, baku mutu PM10 sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Arie menegaskan, angka pengukuran harus dibaca sesuai periode rata-ratanya. Kualitas udara yang masih memenuhi baku mutu pun tidak serta-merta berarti bebas risiko, khususnya bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan.
Dampak polusi udara dapat dirasakan dalam jangka pendek, mulai dari iritasi, batuk, sesak napas, hingga memburuknya gejala asma. Dalam jangka panjang, paparan berulang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan paru-paru.
Risiko tersebut semakin perlu diwaspadai ketika polusi udara terjadi bersamaan dengan cuaca panas. Tubuh harus menghadapi paparan pencemar sekaligus beban panas yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
âKombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru,â kata Arie.
Untuk menekan pencemaran, Arie mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, serta melakukan pemeriksaan terhadap sumber emisi yang tinggi.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah dan membiasakan diri memeriksa informasi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi paparan sekaligus menekan sumber pencemaran.
âKita perlu bersama-sama mereduksi emisi,â pungkas Arie.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Wabah Parasit Siklosporiasis Makin Mengganas di AS, Infeksi Tembus 10.000 Kasus
-
Perang Makin Mematikan, 330 Anak Sudan Tewas Hanya dalam 6 Bulan
-
Jelang Final Piala Dunia 2026: Badai Ganggu Persiapan Spanyol vs Argentina
-
Selain Pepaya, Ini Makanan dan Minuman Terbaik yang Bisa Atasi Sembelit
-
Kemlu RI Pastikan Semua WNI di Kolombia Sejauh Ini Aman Pascagempa M7,4
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.