Russia Ingin Dilibatkan dalam Pembicaraan Jaminan Keamanan untuk Ukraina

Kamis, 21 Agu 2025, 05:42 WIB
MOSKOW - Russia pada hari Rabu (20/8) memperingatkan bahwa upaya menyelesaikan masalah keamanan terkait Ukraina tanpa partisipasi Moskow adalah "jalan yang sia-sia", beberapa hari setelah para pemimpin Eropa bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas jaminan keamanan bagi Kyiv.
"Kami tidak setuju dengan fakta bahwa sekarang diusulkan untuk menyelesaikan masalah keamanan, keamanan kolektif, tanpa Federasi Rusia. Ini tidak akan berhasil," ujar Menteri Luar Negeri Russia Sergey Lavrov.
"Saya yakin bahwa di Barat, terutama di Amerika Serikat, mereka sangat memahami bahwa membahas isu keamanan secara serius tanpa melibatkan Federasi Rusia adalah sebuah utopia; jalan buntu."
Dari Al Jazeera, komentarnya tersebut muncul dua hari setelah Trump menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bersama para pemimpin terkemuka Eropa di Gedung Putih, dan beberapa hari setelah Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.
Trump berupaya mengarahkan Putin dan Zelenskyy menuju penyelesaian lebih dari tiga tahun setelah Rusia menginvasi tetangganya, tetapi kendala utama tetap ada.
Pejabat Rusia tersebut mengatakan bahwa setiap pertemuan puncak antara Putin dan Zelenskyy “harus dipersiapkan dengan sangat cermat” agar pertemuan tersebut tidak menyebabkan “kemerosotan” situasi seputar konflik tersebut.
Lavrov juga menuduh para pemimpin Eropa melakukan "upaya ceroboh" untuk mengubah posisi presiden AS terkait Ukraina.
"Kita hanya melihat eskalasi situasi yang agresif dan upaya yang agak canggung untuk mengubah posisi presiden AS," katanya, merujuk pada pertemuan hari Senin.
“Kami tidak mendengar ide-ide konstruktif dari orang Eropa di sana,” tambah Lavrov.
Sementara itu, Andriy Yermak, kepala staf Zelenskyy, mengatakan pada hari Rabu bahwa Kyiv telah memulai koordinasi intensif dengan penasihat keamanan nasional Eropa dan NATO untuk memajukan jaminan keamanan militer yang konkret dan mencegah agresi di masa mendatang.
"Segera setelah kembali dari Washington, saya mengadakan pembicaraan koordinasi pertama dan sangat panjang dengan para penasihat keamanan nasional yang mewakili Jerman, Italia, Prancis, Inggris, Finlandia, serta Uni Eropa dan NATO," ujar Yermak dalam sebuah pernyataan di Telegram.
Yermak mengatakan tim militer Ukraina telah mulai mengerjakan komponen pertahanan dari jaminan tersebut dan memperingatkan konsekuensi jika Moskow menunda perundingan damai.
“Rusia harus mengambil langkah-langkah yang tepat, atau mereka akan merasakan tekanan tambahan yang sangat menyakitkan dari dunia,” tambahnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa Ukraina siap untuk "format pembicaraan apa pun tentang akhir perang yang jujur", dan berterima kasih kepada Trump, mitra Eropa, dan NATO atas dukungan mereka.
Para petinggi militer NATO bertemu pada hari Rabu untuk membahas rincian jaminan keamanan potensial bagi Ukraina di tengah upaya menengahi gencatan senjata terhadap serangan Rusia.
Komite Militer NATO mengatakan bahwa 32 kepala pertahanan dari seluruh aliansi mengadakan konferensi video.
Jenderal AS Alexus Grynkewich, yang mengawasi operasi NATO di Eropa, juga ikut serta dalam pembicaraan tersebut.
Sekutu Eropa Kyiv tengah berupaya membentuk kekuatan yang dapat mendukung perjanjian damai apa pun, dan koalisi yang terdiri dari 30 negara, termasuk negara-negara Eropa, Jepang, dan Australia, telah mendaftar untuk mendukung inisiatif tersebut.
Para petinggi militer sedang mempertimbangkan bagaimana pasukan keamanan tersebut dapat bekerja. Peran yang mungkin dimainkan AS masih belum jelas. Trump pada hari Selasa mengesampingkan kemungkinan pengiriman pasukan AS untuk membantu mempertahankan Ukraina dari Rusia.
Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima pasukan NATO di Ukraina.
Sementara itu, Polandia, anggota NATO, mengatakan Rusia kembali memprovokasi negara-negara dalam aliansi tersebut.
Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz melontarkan pernyataan tersebut pada hari Rabu, setelah seorang pejabat mengatakan objek yang mendarat semalam di ladang jagung di Polandia timur kemungkinan merupakan pesawat tanpa awak Shahed versi Rusia.
"Sekali lagi, kita berhadapan dengan provokasi dari Federasi Rusia, dengan pesawat nirawak Rusia. Kita sedang menghadapi momen krusial, ketika diskusi tentang perdamaian [di Ukraina] sedang berlangsung," ujarnya kepada para wartawan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.