Drone Jet Russia Makin Canggih, Pertahanan Udara Ukraina Kewalahan Hadapi Serangan dari Langit

Rabu, 09 Sep 2026, 12:16 WIB

Kyiv, Ukraina - Drone jarak jauh bertenaga jet milik Russia yang mampu terbang beberapa kilometer di udara dengan kecepatan mendekati pesawat komersial kini menimbulkan gangguan serius bagi sistem pertahanan udara Kyiv yang semakin terbebani.

Dalam beberapa pekan terakhir, Russia melancarkan gelombang serangan menggunakan drone tersebut ke ibu kota Ukraina. Serangan hampir terus-menerus memicu alarm udara dan membuat aktivitas warga Kyiv terganggu.

Ket. Foto: Ukraina mengembangkan sistem pertahanan antidrone secara terburu-buru setelah invasi Russia pada 2022. — Sumber: AFP

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Minggu mengecam “kengerian yang terjadi di langit dalam beberapa hari terakhir” sebagai taktik baru yang diterapkan Presiden Russia Vladimir Putin dan berjanji akan memberikan respons.

Drone jenis baru itu menjadi tantangan bagi sistem pertahanan antidrone Ukraina yang selama ini relatif efektif dan berbiaya rendah. Sistem tersebut dibangun secara cepat setelah Rusia melancarkan invasi pada 2022.

Ukraina bahkan berkembang menjadi salah satu negara terdepan dalam teknologi pertahanan drone dan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara Barat serta Timur Tengah untuk berbagi teknologi.

Namun, jaringan pencegat drone Ukraina yang selama ini mampu menembak jatuh sebagian besar drone konvensional menghadapi kesulitan lebih besar dalam menghadapi drone bertenaga jet.

Drone konvensional umumnya menggunakan mesin pembakaran internal dan baling-baling. Sementara itu, para pakar menyebut drone terbaru Russia menggunakan mesin jet mini bergaya pesawat buatan Tiongkok.

Drone tersebut mampu terbang pada ketinggian sekitar lima kilometer dengan kecepatan 400-600 kilometer per jam. Kecepatan itu mencapai tiga kali lipat dibandingkan versi sebelumnya yang berbasis drone Shahed buatan Iran.

Model terbaru juga mampu membawa bahan peledak hingga 90 kilogram, hampir dua kali lipat dibandingkan versi sebelumnya. Ukurannya pun jauh lebih besar, dengan panjang sekitar enam meter dan rentang sayap 5,5 meter.

Ketinggian dan kecepatan tersebut membuat drone baru itu berada di luar jangkauan armada pencegat Ukraina saat ini.

“Hal ini menghapus kemajuan yang telah kami capai dalam perang melawan drone,” kata pakar militer Ukraina Sergiy Zgurets kepada AFP.

Dari perspektif pertahanan udara, para analis menilai karakteristik drone baru Russia tersebut lebih menyerupai rudal jelajah dibandingkan drone konvensional.

Diperkirakan Russia meluncurkan sekitar 2.800 drone bertenaga jet sepanjang Agustus, meningkat dari sekitar 1.500 unit pada Juli dan hanya beberapa ratus unit pada Juni.

Juru bicara Angkatan Udara Ukraina mengatakan sekitar 60 persen drone tersebut berhasil dihancurkan. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan tingkat keberhasilan menghadapi drone yang terbang lebih lambat dan pada ketinggian lebih rendah, yang mencapai lebih dari 90 persen.

Kyiv Nyaris Lumpuh

Serangan terbaru terjadi ketika Kyiv sudah menghadapi tekanan akibat peningkatan tajam serangan rudal balistik Russia. Serangan tersebut telah menewaskan puluhan orang sejak awal musim panas.

Pada Jumat, sebuah drone bertenaga jet menghantam markas badan keamanan Ukraina di pusat bersejarah Kyiv. Serangan yang dilakukan pada siang hari itu dinilai sangat simbolis.

Ukraina menuduh Russia melancarkan serangan tersebut untuk mengganggu kunjungan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Moskow dan Kyiv dalam upaya menghidupkan kembali perundingan damai yang terhenti.

Gelombang serangan membuat Kyiv beberapa kali nyaris lumpuh. Alarm serangan udara bahkan dapat berbunyi hingga belasan kali dalam sehari.

Ketika alarm berbunyi, banyak perusahaan dan institusi menghentikan aktivitas, sementara layanan metro dibatasi. Kondisi itu memicu kemacetan lalu lintas dan membuat warga berkumpul di jalanan.

Sejumlah sekolah yang baru kembali dari libur musim panas pekan lalu juga mengumumkan kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Gangguan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi kota tersebut semakin besar sehingga pemerintah kota mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan melonggarkan sejumlah protokol keamanan agar Kyiv, yang berpenduduk sekitar tiga juta orang, tetap dapat berfungsi.

Ukraina Butuh Enam Bulan

Pejabat Kyiv mendapat kritik karena dinilai gagal mengantisipasi ancaman drone bertenaga jet tersebut.

Para analis mengatakan Russia telah memproduksi drone bertenaga jet selama sekitar 18 bulan dan kini mampu memproduksi sekitar 3.000 unit setiap bulan.

“Russia memiliki jendela peluang dengan drone jet ini,” kata blogger Ukraina Nikolaevsky Vaniok, yang dekat dengan komunitas pertahanan udara Ukraina dan memiliki lebih dari 2,6 juta pengikut di Telegram.

Menghadapi ancaman tersebut, Zelensky pekan lalu mengumpulkan kabinet militernya untuk mempercepat produksi drone pencegat yang memiliki kecepatan lebih tinggi.

Ia mengatakan prototipe telah tersedia dan pengembangan terus dilakukan “untuk membawa senjata baru ini ke tingkat efektivitas yang diperlukan”.

Salah satu perusahaan persenjataan besar Ukraina yang memproduksi drone pencegat untuk menghadapi drone konvensional mengatakan kepada AFP bahwa mereka “secara aktif mengerjakan solusi” untuk menghadapi ancaman baru tersebut.

Namun, Zgurets yang juga kepala pusat analisis Defense Express menilai Ukraina membutuhkan respons yang lebih kompleks, bukan hanya meningkatkan kemampuan drone pencegat.

Menurut dia, respons yang lebih menyeluruh harus menggabungkan kekuatan penerbangan, sistem rudal permukaan-ke-udara, perang elektronik, serta serangan yang lebih banyak terhadap lokasi peluncuran dan fasilitas produksi drone di dalam wilayah Russia.

“Russia telah mendapatkan keunggulan dalam siklus teknologi ini,” kata Zgurets.

Ia memperingatkan Ukraina mungkin membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk mengembangkan langkah penanggulangan yang efektif terhadap drone bertenaga jet Russia tersebut.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.