Hari Ini Trump dan Putin Gelar Pertemuan Bersejarah di Alaska, Bahas Akhiri Perang Ukraina

Jumat, 15 Agu 2025, 18:15 WIB

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat, menandai pertemuan puncak bersejarah di tanah Amerika dengan seorang pemimpin yang terisolasi oleh Barat akibat invasi ke Ukraina. Pertemuan ini menjadi sorotan global karena Trump sebelumnya berjanji akan segera mengakhiri perang di Ukraina jika terpilih kembali pada pemilihan presiden 2024.

Trump memproyeksikan rasa percaya diri menjelang pertemuan di Anchorage, meskipun hasil konkret dari pembicaraan tersebut masih belum jelas.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

"Karena hubungan tertentu yang dia miliki dengan saya, memimpin negara ini … saya yakin sekarang dia yakin akan mencapai kesepakatan," ujar Trump kepada Brian Kilmeade dari Fox News Radio pada Kamis. "Dia akan mencapai kesepakatan."

Mantan presiden itu menggambarkan pertemuan di Alaska sebagai langkah awal menuju pertemuan kedua yang kemungkinan besar akan melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Trump mengatakan telah mempertimbangkan tiga lokasi potensial untuk pertemuan tersebut, termasuk Alaska sebagai pilihan strategis.

"Pertemuan yang lebih penting adalah pertemuan kedua yang akan kita adakan: Kita akan bertemu dengan Presiden Putin, Presiden Zelenskyy, saya sendiri, dan mungkin kita akan mengundang beberapa pemimpin Eropa. Mungkin juga tidak," kata Trump pada Kamis, menandai kemungkinan negosiasi langsung tiga pihak.

Sementara itu, para pemimpin Eropa yang mendukung Ukraina menegaskan kepada Trump bahwa Putin harus menyetujui gencatan senjata dan memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina sebelum pembicaraan damai dimulai. Pesan itu disampaikan dalam percakapan pada Rabu, menegaskan posisi Eropa yang tegas terhadap Moskow.

Gedung Putih menyatakan, Trump dan Putin akan menggelar pembicaraan di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson di Anchorage. Pertemuan itu akan diakhiri dengan konferensi pers bersama untuk menyampaikan hasil diskusi kepada publik internasional.

Trump juga mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap Putin yang disebutnya “memaksa” usai percakapan pribadi yang membahas keinginan perdamaian di Ukraina. Trump menilai situasi semakin rumit setelah pembicaraan tersebut diikuti dengan serangan terhadap sasaran sipil di Ukraina.

Meski demikian, Trump tidak memberikan banyak detail tentang mengapa pertemuan kali ini akan berbeda dari upaya diplomasi sebelumnya. Ia hanya menegaskan bahwa akan ada “konsekuensi berat” bagi Rusia jika tidak menghentikan perangnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut bentuk konsekuensi tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Trump sempat menyebut kemungkinan adanya “pertukaran wilayah” antara Rusia dan Ukraina sebagai solusi damai. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak keras gagasan tersebut dengan alasan akan melanggar konstitusi negaranya dan kedaulatan nasional.

Pertemuan ini menjadi salah satu agenda diplomatik paling sensitif bagi Trump sejak kembali ke panggung politik. Keberhasilannya dalam membujuk Putin untuk menghentikan agresi militer di Ukraina akan sangat memengaruhi reputasi internasionalnya serta dinamika hubungan AS–Rusia di masa depan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.