Zelenskyy Pertimbangkan Penyerahan Wilayah Jelang Pertemuan Trump-Putin

Rabu, 13 Agu 2025, 01:00 WIB

Moskow - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Senin (11/8), dilaporkan mulai melunak terkait isu wilayah dan kemungkinan dapat menyetujui penyerahan wilayah Ukraina yang saat ini dikuasai Russia dalam rangka mengakhiri peperangan sesuai rencana yang didukung Eropa.

Seperti dikutip dari Antara, menjelang pertemuan Russia-Amerika Serikat (AS) di Alaska akhir pekan ini, seorang pejabat Barat yang tak disebutkan namanya mengatakan bahwa penyerahan wilayah hanya dapat dilakukan pada posisi yang saat ini "dikuasai oleh militer".

Ket. Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy — Sumber: AFP/Gints Ivuskans

Meski Ukraina tampaknya bisa setuju menyerahkan wilayah, Ukraina hanya akan menyetujui perjanjian perdamaian yang memberikannya jaminan keamanan dalam bentuk komitmen pasokan senjata dan keanggotaan NATO.

The Telegraph mengatakan bahwa Ukraina dapat menyetujui penghentian peperangan dan penyerahan wilayah yang dikuasai Russia di bawah sebuah rencana yang didukung negara-negara Eropa.

Harian tersebut mengeklaim bahwa terbuka kemungkinan penghentian peperangan di sepanjang garis depan pertempuran serta penguasaan de-facto Russia terhadap semua wilayah yang didudukinya di Ukraina.

Wilayah-wilayah tersebut antara lain "Republik Rakyat Donetsk", "Republik Rakyat Luhansk", wilayah Zaporizhzhia dan Kherson, serta Semenanjung Krimea. 

The Telegraph juga mengabarkan bahwa menurut pejabat Eropa, Zelenskyy punya peluang untuk memengaruhi para pemilih di Ukraina yang semakin terbuka terhadap opsi penyerahan wilayah kepada Russia demi mengakhiri perang.

Gedung Putih dan Kremlin sama-sama mengkonfirmasi bahwa Presiden Trump dan Presiden Putin akan bertemu di Alaska pada Jumat (15/8).

Menurut ajudan kepresidenan Russia Yury Ushakov, Duta Khusus Presiden AS Steve Witkoff sempat mengusulkan pertemuan tiga pihak antara Putin, Trump, dan Zelenskyy dalam kunjungannya ke Russia.

Namun, usulan Witkoff saat itu tidak ditanggapi pihak Russia yang justru menyarankan supaya usaha kali ini difokuskan pada pertemuan bilateral.

Kemudian, Presiden Putin pada Kamis menyampaikan bahwa kemungkinan pertemuan dengan Presiden Zelenskyy masih terbuka, tetapi ia menekankan syarat-syarat supaya pertemuan dapat dilaksanakan harus dipenuhi lebih dahulu. Ia menganggap bahwa kondisi saat ini masih sangat belum terpenuhi.

Sementara itu, menjelang pertemuan antara pemimpin Russia dan AS, Zelenskyy sempat menegaskan bahwa ia tidak akan menyerahkan wilayah Ukraina kepada Russia.

Sebelumnya, Eropa berupaya menggagalkan perundingan damai melalui Zelenskyy, kata Viktor Medvedchuk, mantan pemimpin oposisi Ukraina sekaligus ketua gerakan Other Ukraine, Senin.

Jelang pertemuan antara Putin dan Trump di Alaska, para pemimpin Eropa menyatakan dukungan terhadap upaya Trump untuk mencapai perdamaian di Ukraina.

Sebuah dokumen bersama menunjukkan kesiapan Eropa memberikan dukungan diplomatik kepada Trump, sambil tetap menawarkan bantuan militer dan finansial kepada Kiev melalui apa yang disebut “Koalisi Sukarela” serta memberlakukan sanksi terhadap Russia.

“Sebuah narasi sedang didorong ke ruang informasi global yang menggambarkan Washington dipimpin oleh orang-orang tidak cakap yang mudah dikelabui. Pihak di balik narasi ini telah memerintahkan Zelenskyy untuk menggagalkan pembicaraan damai dengan cara apa pun,” ujar Medvedchuk.

Ia menambahkan, Zelenskyy berharap mendapatkan dukungan dari Eropa, namun melalui dirinya, “mereka akan menenggelamkan kebijakan Trump dan timnya.”

“Zelenskyy, seperti para pemimpin negara-negara Baltik, dijadikan senjata untuk melawan Trump dan merusak kesepakatan AS-Russia. Ini adalah serangan terukur yang lebih ditujukan kepada Trump daripada Russia. Partai Demokrat AS sangat menginginkan kembali berkuasa. Jika Putin dan Trump mencapai kesepakatan, peluang politik Partai Demokrat untuk kembali akan pupus,” kata Medvedchuk.

Ia juga menuduh Eropa sengaja menghalangi kebijakan luar negeri AS.

“Syarat yang ditetapkan para pemimpin Eropa memang ditujukan untuk membuat negosiasi gagal karena Russia tidak akan pernah menerimanya dalam kondisi apa pun. Eropa sudah pernah menipu Moskow dengan cara ini pada musim semi 2022," kata Medvedchuk.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.