- Home
-
- Luar Negeri
-
- Presiden Mesir: Hak Air Su...
Presiden Mesir: Hak Air Sungai Nil Tak Bisa Dinegosiasi
Rabu, 13 Agu 2025, 03:00 WIBIstanbul - Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menolak segala tindakan sepihak terkait Sungai Nil dan memperingatkan bahwa siapa pun yang mengira Mesir akan mengabaikan hak airnya âtelah keliru.â
Dalam konferensi pers bersama di Kairo, Selasa (12/8), dengan Presiden Uganda Yoweri Museveni, Sisi menjelaskan bahwa aliran tahunan gabungan dari Sungai Nil Putih dan Nil Biru, yang merupakan anak sungai Nil, mencapai sekitar 1.600 miliar meter kubik.
Sebagian besar aliran itu hilang melalui hutan, rawa, penguapan, dan air tanah.
âYang sampai ke Sungai Nil hanya sebagian kecil dan Mesir bersama Sudan menerima sekitar 85 miliar meter kubik â hanya sekitar 4 persen dari totalnya,â ujar Sisi.
Pemimpin Mesir itu menegaskan bahwa mengabaikan porsi air tersebut âsama saja dengan melepaskan nyawa Mesir,â mengingat negara itu tidak memiliki sumber air alternatif dan curah hujan yang sangat minim.
Sisi menyatakan Mesir mendukung pemanfaatan air Sungai Nil untuk pembangunan di negara-negara sahabat, baik untuk pertanian, pembangkit listrik, maupun pembangunan umum.
Namun ia menekankan bahwa pembangunan tersebut tidak boleh mengurangi jumlah air yang sampai ke Mesir.
Ia juga menempatkan isu air Sungai Nil dalam konteks tekanan politik yang lebih luas terhadap Mesir untuk mendorong agenda yang tidak terkait.
âMesir menolak campur tangan, perusakan, atau konspirasi, dan sebaliknya mengutamakan pembangunan, kemajuan, dan persatuan benua,â tegasnya.
Pada awal Juli Ethiopia mengumumkan telah menyelesaikan pembangunan bendungan raksasa di Sungai Nil Biru dan bersiap untuk peresmian resmi pada September.
Pembangunan Bendungan Renaissance Ethiopia Raya (GERD) dimulai pada 2011 dan selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan diplomatik, khususnya antara Ethiopia, Sudan, dan Mesir, yang khawatir aliran air berkurang akan memengaruhi jatah airnya dari Sungai Nil.
Meski telah bertahun-tahun melakukan perundingan di bawah mediasi Uni Afrika dan pihak internasional, ketiga negara tersebut belum mencapai kesepakatan hukum yang mengikat terkait pengelolaan air jangka panjang.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Dorong Industri Kreatif, Pemkot Singkawang Beri Pelatihan Tenun
-
Mau Cari Suasana Baru? Weekend at Parapuar, Cara Baru Nikmati Sisi Darat Labuan Bajo
-
Argentina Vs Mesir: Argentina Unggul dan Menuju Babak 8 Besar
-
Guardiola Dikabarkan Hengkang, Manchester City Hadapi Akhir Sebuah Era
-
Harga Emas Antam Naik Rp25.000 Menjadi Rp2,789 Juta/Gr pada Selasa Pagi
-
Jelang Laga Argentina Kontra Mesir: Bak David Versus Goliath, Ini Panggung Pembuktian The Pharaohs
-
Hasil Piala Dunia: Mesir Petik Kemenangan Perdana, Tundukkan Selandia Baru 3-1
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.