Harga Bawang Merah Bisa Tenang Kembali, Kementan Klaim Stok Melimpah

Rabu, 13 Agu 2025, 22:11 WIB

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pasokan bawang merah nasional berada dalam kondisi aman, mematahkan kekhawatiran publik akan gejolak harga yang sempat mengguncang pasar.

Setelah periode fluktuasi yang membuat pedagang dan konsumen waswas, harga di pasar grosir dan eceran kini berangsur kembali normal.

Ket. Foto: Dokumen – Pedagang bawang merah di Pasar Tanjung, Jember, Jawa Timur. — Sumber: ANTARA/ Zumrotun Solichah

Pemulihan ini bukan terjadi begitu saja—di baliknya ada strategi distribusi yang lebih rapat, koordinasi lintas daerah yang agresif, dan pengendalian stok yang ketat.

Pemerintah ingin mengirim sinyal tegas: spekulasi dan permainan harga tak akan lagi dibiarkan mengacak-acak pasar.

Jika pola ini berlanjut, bawang merah tak hanya kembali jadi bumbu dapur, tapi juga simbol keberhasilan stabilisasi pangan nasional.

“Dalam beberapa pekan terakhir, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat memantau langsung sentra bawang merah seperti Nganjuk, Malang, Bandung, Garut, Cirebon, dan Brebes, serta berkoordinasi dengan Champion dan dinas pertanian setempat untuk menjaga produksi,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Muhammad Agung Sunusi di Jakarta, Rabu (13/8).

Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Kramat Jati pada Senin (11/8), Kementan mencatat pasokan yang masuk mencapai 106 ton per hari, meningkat dari sebelumnya hanya 80–90 ton.

Harga di pasar grosir turun rata-rata Rp5.000 per kilogram, sedangkan di pasar eceran di Jakarta dan sejumlah kota di Pulau Jawa, tren harga juga mulai menurun.

Agung melanjutkan, pasokan bawang merah di Sumatera, terutama di Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan Sumatera Barat, sempat terganggu akibat turunnya produksi di sentra utama Solok. Namun, sejak pekan pertama Agustus 2025, sejumlah sentra telah memasuki musim panen.

“Kekeringan Mei–Juli menyebabkan gagal panen dan mundurnya jadwal tanam di beberapa wilayah Jawa. Sedangkan, Agustus-September, Nganjuk diperkirakan panen 5.000 hektare, Bima Raya (Sumbawa, Dompu, dan Bima) 2.000 hektare, Brebes 3.600 hektare, dan Probolinggo 700 hektare dengan rata-rata produktivitas 12–14 ton per hektare,” jelasnya.

Berdasarkan tabulasi data yang dihimpun, sepanjang Agustus 2025 diperkirakan terdapat panen seluas 13.835 hektare, dan pada September nanti mencapai 16.342 hektare.

Agung pun menyampaikan dengan kondisi tersebut, diperkirakan pasokan bawang merah di pasaran kembali normal.

Sementara itu, sejak 2017 Indonesia telah mencatatkan swasembada bawang merah dan bahkan rutin mengekspor setiap tahunnya.

Data Kementan menunjukkan bahwa tahun 2024, produksi bawang merah mencapai 2,08 juta ton (konde basah) atau sekitar 1,35 juta ton rogol kering panen, melebihi kebutuhan nasional sebesar 1,2 juta ton. Artinya, Indonesia memiliki surplus sekitar 150 ribu ton per tahun.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.