Solok Punya Peran Strategis, Produksi Bawang 500 Ton Per Hari, Surplus 16 Juta Ton Beras

Kamis, 14 Mei 2026, 12:53 WIB

JAKARTA – Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), dinilai punya peran strategis dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Daerah ini jadi salah satu sentra produksi beras, bawang merah, dan hortikultura dataran tinggi yang menopang distribusi pangan lintas wilayah.

Potensi itu perlu diperkuat lewat perlindungan lahan, peningkatan produktivitas, penguatan distribusi, hingga pengawasan keamanan pangan. Hal tersebut mengemuka saat audiensi Pemkab Solok dengan Bapanas di Jakarta, Selasa (13/5).

Ket. Foto: Audiensi Pemkab Solok dengan Bapanas di Jakarta, Selasa (13/5) — Sumber: istimewa

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto menegaskan, daerah penghasil pangan seperti Solok punya kontribusi penting bagi ketahanan pangan nasional. 

“Solok ini punya posisi strategis, terutama untuk padi, bawang merah, dan hortikultura. Daerah seperti ini harus dijaga lahannya, dijaga produksinya, karena menopang stabilitas pangan nasional,” ujar Andriko.

Nasional Surplus, Solok Siap Panen Raya  

Bapanas mencatat hingga Mei 2026 Indonesia masih surplus untuk komoditas strategis. Ketersediaan beras nasional 29,33 juta ton dengan surplus 16,39 juta ton. Jagung surplus 4,35 juta ton dan gula konsumsi surplus 632 ribu ton.

Di Solok, luas sawah mencapai 22 ribu hektare dengan indeks pertanaman rata-rata dua kali setahun. Meski 1.500 hektare sempat terdampak bencana, sebagian besar lahan sudah pulih dan siap panen bersama akhir Mei hingga awal Juni 2026.

Solok juga jadi sentra bawang merah nasional dengan produksi sekitar 500 ton per hari. Sebagian besar dikirim ke Riau, Jambi, hingga Kalimantan. 

“Untuk kebutuhan lokal Sumbar hanya 5 sampai 10 persen. Selebihnya dikirim keluar daerah,” kata Kepala Dinas Pertanian Solok Deslirizaldi.

Inovasi Distribusi dan Pengurangan Impor

Pemkab Solok mengembangkan bawang putih seluas 25 hektare bekerja sama dengan lembaga penelitian hortikultura nasional untuk mengurangi impor. Selain itu, ada pengembangan kopi rakyat, sapi perah, dan usulan cetak sawah baru 93 hektare.

Untuk menekan ongkos distribusi, Pemkab meluncurkan “Si Abang” atau Sistem Informasi Angkutan Barang Gratis. Program ini memberi layanan angkutan gratis hasil pertanian dari lahan ke pasar.

“Biaya angkut yang sebelumnya ratusan ribu rupiah kini bisa ditekan. Ini bagian dari strategi pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas harga,” jelas Kepala Dinas Perhubungan Solok Muhammad Joni.

Keamanan Pangan Jadi Fokus

Andriko menekankan pentingnya pengawasan residu pestisida pada sayur dan buah. Bapanas mendorong penguatan Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah dan pemanfaatan rapid test kit untuk uji cepat di lapangan.

“Pangan aman itu amanah undang-undang. Produk pangan tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Bapanas juga mendorong hasil pertanian Solok terkoneksi dengan program Makan Bergizi Gratis agar terserap langsung oleh dapur penyedia pangan daerah.

Audiensi ini diharapkan jadi langkah awal penguatan sinergi pusat-daerah untuk mendukung swasembada pangan, stabilisasi harga, dan pengembangan kawasan pertanian berbasis potensi lokal di Solok.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.