DEN Turun Tangan! Perkuat Posisi Tawar Indonesia di Meja Tarif AS
Rabu, 13 Agu 2025, 22:58 WIBJAKARTA â Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyiapkan langkah diplomasi ekonomi tingkat tinggi dengan merencanakan pertemuan bersama Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS) Howard Lutnick pada September 2025.
Misi ini bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan manuver strategis untuk mendorong kelanjutan negosiasi tarif sektoral yang krusial bagi perdagangan bilateral IndonesiaâAS.
Luhut menegaskan, kesepakatan yang akan dibidik harus mampu membuka akses pasar yang lebih luas, mengurangi hambatan tarif, dan memberi keuntungan nyata bagi industri nasional.
Di tengah persaingan global yang kian ketat, pertemuan ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di meja perundingan Washington.
âSaya sudah minta waktu, izin ke Presiden (Prabowo Subianto) untuk bertemu dengan Secretary (Howard) Lutnick karena dia teman baik juga,â ujar Luhut di kantornya, Jakarta, Rabu (13/8).
Dalam pertemuan tersebut, Luhut berencana menyampaikan data terkait sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi AS agar bisa dibebaskan dari tarif 19 persen yang saat ini berlaku. Pemerintah akan berupaya menekan tarif beberapa komoditas tersebut hingga 0 persen.
Sebab menurut Luhut, Indonesia saat ini sudah memiliki posisi tawar yang baik untuk melanjutkan pembicaraan dengan Washington DC. Dirinya menilai Indonesia sejauh ini berhasil melunakkan sikap Presiden AS Donald Trump dan timnya sehingga mendapat tarif resiprokal yang cukup rendah di kawasan ASEAN.
âDengan (tarif resiprokal) 19 persen, selisih 1 persen dengan Vietnam,â ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan proses negosiasi dengan AS tetap berjalan, meski tarif impor sebesar 19 persen telah diberlakukan per 7 Agustus 2025.
Ia menyebutkan penurunan tarif resiprokal masih bisa terjadi, mengingat sebelumnya juga terjadi perubahan dari 32 persen menjadi 19 persen.
Lebih lanjut, Mendag menyampaikan bahwa Indonesia masih diberi kesempatan untuk berunding oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut dia, hal ini akan dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meminta tarif impor 0 persen bagi komoditas-komoditas yang tidak diproduksi di AS.
Namun demikian, Budi enggan untuk menyebut komoditas apa saja yang masih diusahakan untuk mendapat tarif 0 persen.
"Dulu 32 persen, setelah 32 persen kan ditunda 3 bulan ya kan. Nah, 3 bulan kan berlaku 10 persen kan, artinya di 3 bulan itu kan ada proses negosiasi terus, akhirnya dapat 19 persen kan. Nah ini dapat 19 persen tapi kan masih ada berunding yang lain lagi yang kita usahakan untuk 0 persen itu sampai 1 September," katanya.
Adapun tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat sebesar 19 persen sudah berlaku sejak 7 Agustus. Kebijakan tarif itu juga telah diumumkan Amerika Serikat kepada 92 negara lainnya.
- tarif resiprokal
- Negosiasi Dagang
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
"Jakarta Innovation Days" 2025 Bakal Digelar di Kawasan Dukuh Atas
-
OIKN Gerak Cepat! Embung dan Kolam Retensi Dibangun untuk Amankan Air Ibu Kota Baru
-
Kemenperin Tegaskan Komitmen Lindungi Industri Dalam Negeri, Siap Lanjutkan Ruang Negosiasi untuk Jaga Akses Ekspor
-
Deal, Trump Umumkan Capai Kesepakatan Tarif dengan Indonesia, Produk RI Dikenakan Tarif 19%
-
Deal Dagang Harus Win-Win, Bukan Win-Lose untuk Indonesia
-
Taylor Swift Umumkan Tanggal Perilisan Album Terbarunya
-
RI Gagal Lakukan Negosiasi Tarif, Ada 1,2 Juta Pekerja yang Terancam Kehilangan Pekerjaan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.