Menkes Ingin Mempercepat Mencetak 70.000 Dokter Spesialis. Memang Bisa? Bagaimana Caranya? Jadinya Dokter Apa?
Senin, 11 Agu 2025, 13:45 WIBJAKARTA â Program pendidikan kedokteran, apalagi dokter spesialis, bukannya sudah ada urut-urutannya? Lalu bagaimana cara mempercepat. Jadinya dokter apa?
Menteri Kesehatan (Menkes) bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) sedang mengupayakan percepatan pencapaian target 70.000Â dokter spesialis permintaan Presiden Prabowo Subianto.
"Presiden memang minta saya dan Mendiktisaintek Prof Brian untuk mempercepat target 70.000 dokter spesialis. Ini sedang kita upayakan," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin.
Hal tersebut disampaikan Menkes saat memberikan kuliah umum Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Untuk mempercepat target lulusan 70.000 dokter spesialis, kata dia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan berbagai intervensi, salah satunya di sektor hospital based.
Pada saat bersamaan, lanjutnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) juga sedang mengupayakan percepatan menghasilkan dokter spesialis. Dari pembicaraan antara Menkes dan Mendiktisaintek, target serapan atau lulusan 70.000 dokter spesialis tersebut diperkirakan rampung dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.
Namun kepala negara meminta tidak terlalu lama mengingat tingginya kebutuhan dokter spesialis di Tanah Air. "Pak Presiden tidak mau 10-15 tahun. Dia minta lebih cepat lagi," ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Budi memahami desakan dan permintaan target 70.000 dokter spesialis tersebut merupakan hal yang mendasar, karena menyangkut sisi kesehatan. Oleh karena itu kedua kementerian terkait terus berupaya merealisasikan arahan Presiden Prabowo.
Kemenkes telah melakukan perencanaan kebutuhan dokter spesialis hingga tahun 2032 dengan proyeksi kekurangan sekitar 70.000 dokter spesialis. Akselerasi untuk kebutuhan dokter spesialis mutlak dilakukan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Beda
Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sejumlah perbedaan implementasi pendidikan dokter spesialis di Indonesia dengan negara-negara maju atau negara lainnya di dunia. "Ternyata memang di negara-negara lain, pendidikan dokter spesialis dilakukan di rumah sakit," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Senin.
Hal tersebut disampaikan Menkes saat memberikan kuliah umum pada Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Padang. Setelah mengetahui perbedaan mendasar penerapan pendidikan dokter spesialis di Indonesia dengan negara lain, Menkes langsung melaporkan kepada Presiden.
Menyikapinya, kepala negara minta agar Indonesia melalui perguruan tinggi memperbanyak lulusan dokter spesialis. "Tujuan Presiden agar lebih banyak dokter spesialis dan itu diutamakan dari putera dan puteri daerah," kata Budi Gunadi Sadikin.
Ia menjelaskan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit akan memprioritaskan daerah-daerah yang belum memiliki dokter spesialis. Dalam praktiknya, mereka mendapatkan pendidikan dengan kualitas atau standar yang baik.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Vietnam jadi Negara Pertama di Asia Tenggara yang Berlakukan UU “AI”
-
Dewan Keamanan PBB akan Gelar Pertemuan Darurat Pasca Serangan Drone Russia di Polandia
-
Rencana penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis
-
Perumda Dharma Jaya Berkomitmen Wujudkan Ketahanan Pangan dan Penyediaan Protein Hewani di DKI Jakarta
-
ASN Pemkot Jaktim Deklarasi Dukung Gerakan Masyarakat Punya APAR
-
Peresmian Bunda Clinic MRT Dukuh Atas
-
Sidak ke Pabrik Ban Michelin, DPR: Hentikan Sementara PHK, Kembalikan Warga Bekerja!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.