Garry Pratama, Universitas Padjadjaran
Jetstar Asia resmi menghentikan operasi 16 rute penerbangan mereka secara permanen per 31 Juli 2025.
Qantas Group, perusahaan induk Jetstar, mengumumkan keputusan tersebut pada 11 Juni 2025 dengan alasan ârestrukturisasi strategisâ sebagai faktor pendorong di balik keputusan tersebut.
Dengan demikian, usai sudah kiprah maskapai berbiaya rendah milik Qantas yang berbasis di Singapura ini, setelah beroperasi sejak 2004 di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, penutupan maskapai ini cukup berdampak buruk. Labuan Bajo termasuk dalam rute yang terdampak langsung karena sebelumnya Jetstar menyediakan rute penerbangan langsung Singapura-Labuan Bajo.
Sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodoâsatu-satunya habitat asli komodo di duniaâLabuan Bajo memegang peranan kunci dalam membuka akses bagi wisatawan, menarik investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lewat pariwisata.
Hilangnya akses langsung dari Singapura menuju Labuan Bajo, membuat akses ke kawasan tersebut menjadi sangat terbatas bagi wisatawan internasional.
Mengapa rute penerbangan langsung penting?
Jetstar Asia sebelumnya menjadi satu-satunya maskapai yang melayani penerbangan langsung SingapuraâLabuan Bajo.
Rute ini sebenarnya baru beroperasi beberapa bulan yang lalu (20 Maret 2025). Maskapai ini terbang dua kali seminggu dari Bandara Changi ke Bandara Internasional Komodo.
Singapura merupakan penghubung utama di kawasan Asia Tenggara, yang menjadi titik transit favorit wisatawan mancanegara.
Tanpa akses langsung, wisatawan harus transit di Jakarta atau Bali. Situasi ini bisa membuat Labuan Bajo hanya menjadi titik persinggahan singkat, bukan destinasi utama para wisatawan. Akibatnya, para turis akan menghabiskan waktu dan belanja lebih sedikit di sana.
Padahal, meski kerap tertutup popularitas Pulau Dewata Bali, Labuan Bajo menjanjikan pengalaman berbeda bagi para wisatawan asing. Daya tarik seperti pantai alami, lokasi menyelam kelas dunia, dan kesempatan melihat satwa langka Komodo seharusnya jadi keunggulan besar Labuan Bajo.
Namun, ketiadaan penerbangan langsung membuat Labuan Bajo kalah saing dengan destinasi lain di kawasan Asia Tenggara lainnya, yang didukung oleh banyak penerbangan internasional dengan wisatawan berdaya beli tinggi.
Meski maskapai Scoot, anak perusahaan Singapore Airlines, mengklaim sedang tertarik menggantikan Jetstar, proses izin penerbangannya di Indonesia belum selesai. Artinya, rute ini masih akan kosong untuk sementara waktu.
Proyeksi Scoot menggantikan Jetstar
Menurut Reuters, Bandara Changi merupakan bandara tersibuk keempat di dunia untuk penumpang internasional. Biaya operasionalnya pun naik bertahap mulai tahun ini hingga 2030 untuk mendanai investasi dan biaya operasional yang lebih mahal.
Seiring dengan upaya penyesuaian operasional dan infrastruktur, sejumlah kebijakan dilakukan di Bandara Changi. Pada Maret 2023, otoritas bandara memindahkan operasi Jetstar Asia dari Terminal 1 ke Terminal 4âmemicu keberatan dari Jetstar. Sebab, terminal tersebut tidak terhubung dengan kereta ke terminal lainnya.
Qantas Group menyatakan penutupan ini menghemat dana sebesar AU$500 juta (sekitar Rp5,5 triliun). Duit tersebut bakal dialokasikan untuk mendukung program pembaruan armada pesawat lama.
Seiring berhentinya Jetstar Asia, sekitar 180 penerbangan mingguan di Changi ikut dihentikan. Pada 2024, Jetstar mengangkut sekitar 2,3 juta penumpang atau sekitar 3% dari total lalu lintas bandara internasional tersebut.
Untuk menutupi kekosongan pasar yang ditinggalkan Jetstar tersebut, Scoot mengumumkan bahwa mereka akan menambah penerbangan ke berbagai destinasi Asia, termasuk Labuan Bajo.
Langkah cepat Scoot untuk mengisi rute ini mengonfirmasi bahwa permintaan penumpang untuk rute Singapura-Labuan Bajo masih sangat tinggi.
Labuan Bajo adalah pilihan rute yang strategis masuk akal bagi Scoot karena beberapa alasan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, Labuan Bajo berfungsi sebagai pintu gerbang ke Taman Nasional Komodo, yang memiliki daya tarik internasional yang besar.
Tidak seperti rute ke kota-kota besar di Asia Tenggara seperti Bangkok, Jakarta atau Kuala Lumpur, Labuan Bajo tidak memiliki persaingan dari maskapai lain.
Situasi ini memberikan Scoot fleksibilitas harga yang lebih besar untuk Labuan Bajo sebagai salah satu Bali baru Indonesia.
Hal yang bisa dilakukan pemerintah
Meski rute ini mendesak untuk diisi, pemerintah Indonesia tentu tidak bisa sembarangan mengobral izin seluas-luasnya untuk maskapai asing.
Apalagi, pembukaan akses ke Labuan Bajo punya tantangan unik antara pariwisata dan pelestarian alam Komodo serta ekosistem sekitarnya.
Jika Scoot mendapat izin masuk, pemerintah sebaiknya tidak bisa membuka akses terlalu lebar lagi bagi maskapai-maskapai lain yang ingin melayani rute yang sama.
Indonesia harus memprioritaskan kualitas pengunjung daripada kuantitas. Peningkatan konektivitas harus selaras dengan perlindungan lingkungan dan manfaat ekonomi lokal.
Hingga kini, Kementerian Perhubungan belum menerima proposal resmi dari Singapore Airlines atau Scoot.
Kemungkinan besar, Scoot mengumumkan rencana mereka sambil mempersiapkan proses perizinan di Indonesia. Ini merupakan langkah cerdas agar tidak didahului oleh maskapai pesaing.
Selain pembenahan regulasi, tentunya pemerintah harus terus meningkatkan promosi. Komodo sudah seperti kangguru (Australia) dan panda (Cina) yang memiliki nilai jual tinggi.
Terakhir, pemerintah juga perlu memastikan infrastruktur dasar terus dibangun secara merata. Hal ini penting untuk menarik investor di sektor parisiwata seperti perhotelan, resort, dan transportasi yang menopang pertumbuhan wisata berkelanjutan di Labuan Bajo.
Perbaikan infrastruktur yang dibarengi pengelolaan wisata berkelanjutan bisa menjadikan penerbangan langsung Changi - Komodo tak sekadar jadwal penerbangan, melainkan juga pendongkrak pariwisata Indonesia dan kontributor perekonomian Labuan Bajo.
Garry Pratama, PhD Candidate in Air and Space Law at Leiden University | Assistant Professor & Researcher at Universitas Padjadjaran, Universitas Padjadjaran
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.