IHSG Anjlok Dipicu Panic Selling, Pasar Bereaksi Emosional Usai Keputusan MSCI

Rabu, 28 Jan 2026, 17:30 WIB

IHSG Anjlok Dipicu Panic Selling, Pasar Bereaksi Emosional Usai Keputusan MSCI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (28/1), ditutup melemah tajam seiring aksi panic selling pelaku pasar menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait proses review dan rebalancing saham Indonesia.

Ket. Foto: Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1). BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah penurunan IHSG mencapai delapan persen ke posisi 8.261,79. — Sumber: Antara

IHSG ditutup turun 659,67 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.320,55, sementara indeks LQ45 melemah 63,58 poin atau 7,26 persen ke level 812,53. Tekanan jual yang besar bahkan sempat memicu pemberhentian sementara perdagangan (trading halt).

“Pengumuman MSCI yang tidak memberikan tambahan bobot maupun rebalancing bagi saham Indonesia menjadi pemicu awal tekanan pasar, namun penurunan IHSG hingga memicu trading halt lebih mencerminkan reaksi emosional dan aksi panic selling jangka pendek,” ujar Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa di Jakarta, Rabu.

Menurut Reydi, secara fundamental tidak terdapat perubahan signifikan baik pada kondisi ekonomi domestik maupun kinerja emiten besar.


“Pembekuan perubahan bobot/rebalancing MSCI pada Februari 2025, menurut saya justru dapat menahan arus dana pasif keluar dari IHSG,” katanya.

IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah sepanjang sesi perdagangan. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sektor mencatatkan pelemahan, dengan sektor energi turun paling dalam sebesar 9,57 persen, diikuti sektor barang baku 7,88 persen dan sektor industri 6,19 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain WAPO, STAR, BOGA, BALI, dan NICK. Sementara saham dengan pelemahan terdalam meliputi CDIA, DFAM, ZATA, RAJA, dan RATU. Total transaksi tercatat sebanyak 3,99 juta kali dengan volume 60,86 miliar saham senilai Rp45,50 triliun. Sebanyak 753 saham turun, 37 saham naik, dan 16 stagnan.

Di kawasan regional Asia, pergerakan bursa cenderung bervariasi. Indeks Nikkei menguat tipis 0,05 persen, Hang Seng naik 2,58 persen, Shanghai Composite menguat 0,27 persen, sementara Straits Times melemah 0,28 persen.

Trading Halt dan Evaluasi Struktur Pasar

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar global dan kehati-hatian investor pasca pernyataan MSCI.

“Beberapa catatan dari MSCI belakangan, terutama terkait transparansi pasar saham Indonesia ini perlu dilihat secara konstruktif. Koreksi pasar saat ini harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan struktur pasar saham Indonesia secara lebih serius,” kata Fakhrul.

Ia menekankan pentingnya tata kelola pasar yang baik agar harga saham mencerminkan fundamental.
“Kondisi yang baik bisa meningkatkan posisi kita dalam emerging market, jangan sampai karena governance yang kurang rapi, kita diturunkan ke status frontier market,” ujarnya.

Menurut Fakhrul, pasar saham yang sehat bertumpu pada tata kelola dan kepercayaan investor.
“Pasar saham yang baik adalah pasar yang transparan, kredibel, dan memberikan perlindungan yang kuat bagi investor, khususnya investor minoritas,” jelasnya.

Terkait kebijakan trading halt, Fakhrul menilai langkah BEI sudah tepat.
“Mekanisme trading halt merupakan instrumen penting untuk menjaga stabilitas dan mencegah reaksi berlebihan di tengah pergerakan ekstrem,” katanya.

Ia menilai sentimen negatif jangka pendek masih berpotensi berlanjut, namun harga saham blue chip terutama sektor perbankan sudah relatif murah.
“Di level 8.200, saham-saham blue chip seperti perbankan sudah harus dipertimbangkan untuk dibeli,” tambahnya.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah perubahan terhadap pasar Indonesia, termasuk kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), penambahan saham baru, serta perpindahan dari small cap ke standard index. MSCI menyebut kebijakan ini untuk mengurangi risiko investability dan memberi waktu penguatan transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.