- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO: Hampir 100.000 Orang ...
WHO: Hampir 100.000 Orang Terjangkit Kolera di Sudan, Banjir dan Perang Saudara Perburuk Situasi
Jumat, 08 Agu 2025, 08:37 WIBJENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hampir 100.000 kasus kolera dilaporkan di Sudan sejak Juli tahun lalu, memperingatkan akan terjadi lebih banyak kelaparan, pengungsian, dan penyakit di masa mendatang.
Sejak April 2023, Sudan terpecah belah akibat perebutan kekuasaan antara panglima militer Abdel Fattah al-Burhan dan Mohamed Hamdan Daglo, komandan Pasukan Dukungan Cepat, sebuah kelompok paramiliter yang saling bersaing. Puluhan ribu orang tewas akibat pertempuran.
"Di Sudan, kekerasan yang tak henti-hentinya telah menyebabkan kelaparan, penyakit, dan penderitaan yang meluas," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kamis (7/8).
Kolera telah melanda Sudan, semua negara bagian melaporkan wabah. Hampir 100.000 kasus telah dilaporkan sejak Juli tahun lalu.
Kampanye vaksinasi kolera oral telah dilakukan di beberapa negara bagian, termasuk ibu kota Khartoum, ujarnya dalam konferensi pers dengan asosiasi koresponden PBB Jenewa ACANU.
"Meskipun kita melihat tren penurunan jumlah kasus, masih terdapat kesenjangan dalam pengawasan penyakit, dan kemajuannya masih rapuh," ujarnya.
Banjir yang melanda sebagian besar wilayah Sudan baru-baru ini, diperkirakan akan memperburuk kelaparan dan memicu lebih banyak wabah kolera, malaria, demam berdarah, dan penyakit lainnya.
Kolera adalah infeksi usus akut yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi bakteri, sering kali melalui tinja.
Penyakit ini menyebabkan diare parah, muntah-muntah, dan kram otot.
Kolera dapat membunuh dalam hitungan jam jika tidak ditangani, meskipun dapat diobati dengan rehidrasi oral sederhana, dan antibiotik untuk kasus yang lebih parah.
Telah terjadi peningkatan global dalam kasus kolera, dan penyebaran geografisnya, sejak tahun 2021.
Malnutrisi
Tedros mengatakan ada laporan dari El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara yang terkepung, bahwa orang-orang memakan pakan ternak untuk bertahan hidup.
Di seluruh negeri, jutaan orang kelaparan dan sekitar 770.000 anak di bawah usia lima tahun diperkirakan menderita kekurangan gizi akut tahun ini.
"Dalam enam bulan pertama tahun ini, pusat-pusat gizi yang didukung WHO telah merawat lebih dari 17.000 anak-anak yang mengalami malnutrisi parah dengan komplikasi medis. Namun, masih banyak lagi yang tidak terjangkau," Tedros memperingatkan.
Upaya badan kesehatan PBB terhambat oleh akses terbatas dan kurangnya dana, tambahnya, karena WHO hanya menerima kurang dari sepertiga uang yang dimintanya untuk menyediakan bantuan kesehatan mendesak di Sudan.
Direktur Jenderal WHO mengatakan selama kekerasan berlanjut di Sudan, "kita menyaksikan lebih banyak kelaparan, lebih banyak pengungsian, dan lebih banyak penyakit".
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Milos Raickovic dan Gali Freitas Optimistis Bawa Persebaya Capai Target Musim 2025/2026
-
Tak Kelola Sampah, Camat dan Lurah di Jakarta Utara Bakal Disanksi KLHK
-
Lantik 578 Pejabat Administrator dan Pengawas, Gubernur Khofifah Minta Kerja dengan Ikhlas
-
Ini Kiat Mengendarai Sepeda Motor Listrik Saat Banjir
-
Airlangga Ungkap: 90 Persen Eksportir Patuh Tempatkan DHE SDA di Dalam Negeri!
-
Apple Kembali Hadirkan Fitur Pemantauan Oksigen Darah di Apple Watch
-
Tangani Banji Jalan Nasional Semarang-Demak, Kemen PU Bangun Sodetan Darurat Kaligawe 227 Meter
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.