Inovasi Gamelan di GKJ Gondokusuman Dorong Kebangkitan Ibadah Bahasa Jawa

Selasa, 05 Agu 2025, 18:00 WIB

YOGYAKARTA – Upaya menghidupkan kembali ibadah berbahasa Jawa terus dilakukan sejumlah gereja, salah satunya melalui pendekatan budaya. Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta, menggelar sarasehan bertema “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di Gereja Kristen Jawa”, Senin (4/8), sebagai bagian dari langkah tersebut.

Ketua panitia, Joko Pamungkas, menyebut bahwa gamelan menjadi kunci penting dalam menyegarkan kembali ibadah yang mulai kehilangan minat jemaat. “Kita ingin ibadah dalam bahasa Jawa tidak ditinggalkan. Gamelan adalah sarana kreatif yang bisa menghidupkan suasana ibadah,” ujarnya.

Ket. Foto: Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta, menggelar sarasehan bertema “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di Gereja Kristen Jawa”, Senin (4/8). — Sumber: ESP

Sarasehan dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai kota seperti Cilacap, Kebumen, Solo, hingga Jakarta. Para peserta datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari jemaat gereja, pengrawit, pelatih karawitan, hingga akademisi seni.

Dalam sesi diskusi, Pdt. Fendi Susanto menyinggung sejarah panjang penggunaan gamelan di gereja yang sempat dilarang oleh misionaris pada masa lampau. “Kini hampir semua GKJ punya gamelan. Ini saatnya gamelan bukan hanya jadi warisan budaya, tapi sungguh hadir di ruang ibadah,” ungkapnya.

Berbagai eksperimen musikal turut dipresentasikan, termasuk penggunaan sendok sebagai penabuh hingga penyesuaian tangga nada agar gending bisa selaras dengan pujian gereja. Inovasi ini dianggap sebagai bentuk adaptasi tanpa menghilangkan akar tradisi.

Gandung Djatmiko, pengajar seni dari ISI Yogyakarta, menilai gerakan ini sebagai bentuk regenerasi liturgi yang berbasis budaya. “Kalau ingin ibadah berbahasa Jawa bertahan, maka ekspresi budaya seperti gamelan perlu dirawat dan dikembangkan,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, para peserta sepakat menyusun buku panduan gending lintas gereja yang memuat aransemen gending rohani. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat praktik liturgi kontekstual serta menjadi jembatan antara iman, bahasa, dan budaya lokal.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.