Independensi The Fed Jadi Sentimen Baru bagi Investor, Berikut Proyeksi Rupiah

Kamis, 24 Jul 2025, 09:11 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, hari ini (24/7), seiring absennya data penting ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri. Sentimen penggerak rupiah di­prediksi masih berasal dari global, terutama perkembangan negosiasi dagang dan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat kekhawatiran baru terkait independensi The Fed menjadi sentimen yang akan turut memengaruhi perge­rakan rupiah. Saat independensi The Fed dipertanyakan, investor khawatir kebijakan moneter dapat dipengaruhi fak­tor-faktor selain pertimbangan berbasis data.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terha­dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (24/7), bergerak fluktuatif di 16.250 - 16.300 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perda­gangan, Rabu (23/7), di Jakarta menguat sebesar 17 poin atau 0,10 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.303 ru­piah per dollar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi kesepakatan resmi atas tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia sebesar 19 persen. “Rupiah ditutup menguat ter­hadap dollar AS di tengah sentimen ‘risk on’ di pasar ekuitas oleh kesepakatan tarif antara AS dengan Indonesia dan juga beberapa negara lainnya,” katanya di Jakarta.

Di sisi lain, ekspor AS ke Indonesia justru tidak diterapkan tarif atau 0 persen. Selain itu, Indonesia juga diminta untuk membeli pesawat terbang, produk pertanian, serta migas.

Menurut Lukman, penerapan tarif sangat merugikan ekonomi AS karena yang membayar atas kebijakan tersebut adalah konsumen. Hal itu akan memicu inflasi, menekan daya beli, dan berpotensi membawa ekonomi ke resesi.

Untuk Indonesia, kebijakan tarif yang diterapkan ke Ta­nah Air tak menurunkan daya kompetitif produk Tanah Air dalam sisi harga, mengingat sebagian negara lain juga men­dapatkan tarif AS.

Namun, syarat-syarat lain yang mewajibkan pembelian produk pertanian 4,5 miliar dollar AS, 15 miliar AS di sektor energi, dan 3,2 miliar dollar AS untuk pesawat, dinilai akan sangat membebani yang berujung pada defisit ekonomi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.